Laman

Senin, 07 Mei 2012

Waisak 2556 BE


  
Salah satu hari besar agama Buddha adalah hari Trisuci Waisak yang merupakan hari Raya paling besar dan paling bermakna bagi umat Buddha. Kata “Waisak” sendiri berasal dari bahasa Pali “Vesakha” atau di dalam bahasa Sansekerta disebut “Vaisakha”. Nama “Vesakha” sendiri diambil dari bulan dalam kalender buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi.

Namun, terkadang hari Waisak jatuh pada akhir bulan April atau awal bulan Juni. Hari Raya Waisak sendiri dikalangan umat Buddha sering disebut dengan hari raya Trisuci Waisak. Keputusan merayakan Trisuci ini di nyatakan 
dalam konferensi persaudaraan Buddhis Sedunia ( World Fellowship Of Buddhist ) yang pertama di Srilangka pada tahun 1950.  Disebut demikian karena Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama.

Tiga peristiwa penting itu adalah :
          1. Kelahiran Pangeran Sidharta
         
     Pangeran Sidharta  adalah Putra seorang Raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya. Pangeran Sidharta lahir kedunia sebagai seorang Bodhisatva ( Calon Buddha, Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertingggi ). Beliau Lahir di taman Lumbini pada tahun 623 Sebelum Masehi       
    
      2.  Pencapaian Penerangan Sempurna
       

Pangeran Sidharta tidak pernah keluar dari istana, pada usia 29 tahun beliau pergi meninggalkan Istana dan pergi menuju Hutan untuk mencari Kebebasan dari USIA TUA, SAKIT, dan MATI. Kemudian Pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak Pertapa Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan mendapat gelar SANG BUDDHA.

3.Pencapaian Parinibbana
 

Ketika usia 80 tahun Sang Buddha Wafat atau PARINIBBANA di Kusinara. Semua mahkluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan begitu juga Para anggota Sanggha , mereka bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha.
“ Sang Buddha lahir,pencapaian dan meninggal di tanggal,bulan dan tahun yang sama”.

Biasanya pada hari waisak, umat Buddha merayakannya dengan pergi ke vihara dan melakukan ritual puja-bhakti. Harus dimengerti bahwa umat Buddha melaksanakan ritual puja-bhakti adalah bertujuan untuk mengingat kembali ajaran sang Buddha dan melaksanakan ajaran yang telah diajarkan oleh Sang Buddha.

Bagi umat Buddha, hal tersebut berarti menaati peraturan moral, seperti menghindari pembunuhan makhluk hidup, mencuri, berbuat asusila, berbohong ( menghina / memfitnah bhiksu ) dan mabuk-mabukkan. yang kita kenal dengan Pancasila Buddhis. Selain kelima larangan tersebut, umat Buddha ketika hari Waisak biasanya mengembangkan cinta-kasih dengan cara membantu fakir-miskin atau mereka yang membutuhkan, melepas hewan (biasanya burung) sebagai simbol cinta-kasih dan penghargaan terhadap lingkungan, serta merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukan apakah baik atau buruk sehingga diharapkan di masa mendatangkan tidak mengulangi perbuatan yang buruk yang dapat merugikan.
Dalam agama Buddha kata etika sering pula dijelaskan dengan kata Sila. Dan yang dimaksud dengan etika dalam bahasa Indonesia adalah kesusilaan yang berarti hal-hal yang berkenaan dengan perbuatan baik. Dalam agama Buddha sila merupakan dasar utama dalam pelaksanaan ajaran agama, mencakup semua prilaku dan sifat-sifat baik, yang termasuk ajaran moral dan etika.

Pada saat Sang Buddha akan mangkat, beliau menyampaikan pesan terakhirnya kepada muridnya Y.A Ananda “Apapun Dhamma dan Vinaya yang telah Kuajarkan dan Kunyatakan, hal ini akan menjadi guru kalian kelak”.
Sang Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Utama ( Empat Kesunyataan Mulia ) ialah :
a.       Hidup adalah penderitaan (dukkha)
b.      Sebab penderitaan timbul karena keinginan/tanha (Dukkha Nirodha)
c.       Berhentinya penderitaan hanya dapat diatasi dengan memadamkan keinginan (dukkha Samudaya).
d.      Jalan menuju berhentinya penderitaan dengan memadamkan keinginan.

Memadamkan keinginan hanya terlaksana dengan perbuatan moral serta disiplin hidup dan mencapai puncaknya pada konsentrasi dan meditasi. Untuk mengikis habis sebab penderitaan Sang Buddha memberikan cara-cara terbaik yang dinamakan “Jalan Utama Beruas Delapan“ atau "Ariya Atthangika Magga" yang merupakan Way of life seorang Buddhis, terdiri dari :
a.       Pandangan benar (samma-ditthi)
b.      Pikiran benar (samma-sankhapa)
c.       Ucapan benar (samma-vacca)
d.      Perbuatan benar (samma-kamanta)
e.       Mata pencaharian benar (samma-ajiva)
f.       Daya upaya benar (samma-vayama)
g.      Perhatian benar (samma-sati)
h.      Konsentrasi benar (samma-samadhi)

Sebagai salah satu sutta yang keseluruhannya mengandung sila atau etika untuk dilaksanakan umat Buddha.  Merupakan ajaran sila tahap pertama untuk mencapai kehidupan surga dan tahap selanjutnya untuk perkembangan spiritual atau tahap untuk mencapai penerangan sempurna. 

Sidharta Gautama sudah membuktikan bagaimana ketenangan hidup tercapai ketika kita mampu menjauhi nafsu duniawi. Pilihan untuk meninggalkan segala kemewahan hidup yang di miliki, membawa Sidharta Gautama tidak lagi tergoda oleh ketamakan dan kerakusan.


Ajaran Buddha yang di bawa Sidharta Gautama mengajak pengikutnya untuk menebarkan cinta kasih dan semangat membantu sesama. Kita tidak pernah akan merugikan ketika menolong orang membutuhkan bantuan. Bahkan kita akan merugi ketika menelantarkan mereka yang sedang menderita.

Buddha sangat menjauhi kekerasan, karena itu menimbulkan penderitaan bagi orang lain. Buddha selalu menerima segala perlakuan kasar kepada dirinya tanpa mau membalas, karena ia tahu bahwa mereka yang berlaku  kasar tidak tahu bahwa ia sedang melukai dirinya sendiri.

Ketua Umum DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) sekaligus Ketua Umum Panitia Waisak Nasional Indonesia 2556 BE/2012 Siti Hartati Murdaya berharap Waisak dijadikan sebagai momentum umat Buddha mengikuti jejak Sang Budha Gautama saat berjuang melawan hawa nafsu. "Pada intinya, melawan hawa nafsu sang ego karena sang "aku" inilah sumber malapetaka dan segala penderitaan lahir dan batin".
  
Waisak 2556 

kapankah manusia terbebas dari tantha ?
sehingga terbebas dari samsara
sang buddha mencoba mencari jawab
belajar memahami akar penyebab

berabad-abad waktu berlalu
dan dhammanya melintas waktu
namun manusia tetaplah alpa
terjebak pada pusaran karma

kini di malam purnama sidhi
saatnya kita menilik diri
belajar dan membuka hati
khusyuk dalam heningnya samadhi

selamat merayakan waisak
kembali pada heningnya nurani
yang tulus bersih dan murni

Akhirnya satu harapan besar dari hari Waisak tersebut adalah merenungi segala perbuatannya dan setiap saat selalu hidup dengan rasa cinta kasih tanpa kebenciaan , seperti yang tertulis di dalam Dhammapada,
 “ Kebencian tidak akan selesai jika di balas dengan kebencian , tetapi hanya dengan  memaafkan dan memberi cinta kasihlah maka kebenciaan akan lenyap”.

Selamat  Hari Tri Suci Waisak 2556 BE  kepada seluruh umat buddha yang jatuh pada tanggal 6 mei 2012.

ol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar