Salah satu
hari besar agama Buddha adalah hari Trisuci Waisak yang merupakan hari Raya
paling besar dan paling bermakna bagi umat Buddha. Kata “Waisak” sendiri
berasal dari bahasa Pali “Vesakha” atau di dalam bahasa Sansekerta disebut
“Vaisakha”. Nama “Vesakha” sendiri diambil dari bulan dalam kalender buddhis
yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi.
Namun,
terkadang hari Waisak jatuh pada akhir bulan April atau awal bulan Juni. Hari
Raya Waisak sendiri dikalangan umat Buddha sering disebut dengan hari raya
Trisuci Waisak. Keputusan merayakan Trisuci ini di nyatakan
dalam konferensi persaudaraan Buddhis Sedunia ( World Fellowship Of Buddhist ) yang pertama di Srilangka pada tahun 1950. Disebut demikian karena Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama.
dalam konferensi persaudaraan Buddhis Sedunia ( World Fellowship Of Buddhist ) yang pertama di Srilangka pada tahun 1950. Disebut demikian karena Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama.
Tiga peristiwa penting itu adalah :
1. Kelahiran Pangeran Sidharta
Pangeran
Sidharta adalah Putra seorang Raja yang
bernama Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya.
Pangeran Sidharta lahir kedunia sebagai seorang Bodhisatva ( Calon Buddha,
Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertingggi ). Beliau Lahir di
taman Lumbini pada tahun 623 Sebelum Masehi
Pangeran
Sidharta tidak pernah keluar dari istana, pada usia 29 tahun beliau pergi
meninggalkan Istana dan pergi menuju Hutan untuk mencari Kebebasan dari USIA
TUA, SAKIT, dan MATI. Kemudian Pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak Pertapa
Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan mendapat gelar SANG BUDDHA.
3.Pencapaian Parinibbana
Ketika usia 80 tahun Sang Buddha
Wafat atau PARINIBBANA di Kusinara. Semua mahkluk memberikan penghormatan
kepada Sang Buddha dan begitu juga Para anggota Sanggha , mereka bersujud
sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha.
“ Sang Buddha lahir,pencapaian dan meninggal di tanggal,bulan dan tahun
yang sama”.
Biasanya pada hari waisak, umat
Buddha merayakannya dengan pergi ke vihara dan melakukan ritual puja-bhakti.
Harus dimengerti bahwa umat Buddha melaksanakan ritual puja-bhakti adalah
bertujuan untuk mengingat kembali ajaran sang Buddha dan melaksanakan ajaran
yang telah diajarkan oleh Sang Buddha.
Bagi umat
Buddha, hal tersebut berarti menaati peraturan moral, seperti menghindari
pembunuhan makhluk hidup, mencuri, berbuat asusila, berbohong ( menghina / memfitnah bhiksu ) dan mabuk-mabukkan. yang kita kenal dengan Pancasila
Buddhis. Selain kelima larangan tersebut, umat Buddha ketika hari Waisak
biasanya mengembangkan cinta-kasih dengan cara membantu fakir-miskin atau
mereka yang membutuhkan, melepas hewan (biasanya burung) sebagai simbol
cinta-kasih dan penghargaan terhadap lingkungan, serta merenungkan segala
perbuatan yang telah dilakukan apakah baik atau buruk sehingga diharapkan di
masa mendatangkan tidak mengulangi perbuatan yang buruk yang dapat merugikan.
Dalam agama
Buddha kata etika sering pula dijelaskan dengan kata Sila. Dan yang dimaksud
dengan etika dalam bahasa Indonesia adalah kesusilaan yang berarti hal-hal yang
berkenaan dengan perbuatan baik. Dalam agama Buddha sila merupakan dasar utama
dalam pelaksanaan ajaran agama, mencakup semua prilaku dan sifat-sifat baik,
yang termasuk ajaran moral dan etika.
Pada saat
Sang Buddha akan mangkat, beliau menyampaikan pesan terakhirnya kepada muridnya
Y.A Ananda “Apapun Dhamma dan Vinaya yang telah Kuajarkan dan Kunyatakan, hal
ini akan menjadi guru kalian kelak”.
Sang Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Utama ( Empat Kesunyataan Mulia ) ialah :
Sang Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Utama ( Empat Kesunyataan Mulia ) ialah :
a. Hidup adalah penderitaan (dukkha)
b. Sebab penderitaan timbul karena
keinginan/tanha (Dukkha Nirodha)
c. Berhentinya penderitaan hanya dapat
diatasi dengan memadamkan keinginan (dukkha Samudaya).
d. Jalan menuju berhentinya penderitaan
dengan memadamkan keinginan.
Memadamkan
keinginan hanya terlaksana dengan perbuatan moral serta disiplin hidup dan mencapai
puncaknya pada konsentrasi dan meditasi. Untuk mengikis habis sebab penderitaan
Sang Buddha memberikan cara-cara terbaik yang dinamakan “Jalan Utama Beruas
Delapan“ atau "Ariya Atthangika Magga" yang merupakan Way of life
seorang Buddhis, terdiri dari :
a. Pandangan benar (samma-ditthi)
b. Pikiran benar (samma-sankhapa)
c. Ucapan benar (samma-vacca)
d. Perbuatan benar (samma-kamanta)
e. Mata pencaharian benar (samma-ajiva)
f. Daya upaya benar (samma-vayama)
g. Perhatian benar (samma-sati)
h. Konsentrasi benar (samma-samadhi)
Sebagai
salah satu sutta yang keseluruhannya mengandung sila atau etika untuk
dilaksanakan umat Buddha. Merupakan ajaran sila tahap pertama untuk
mencapai kehidupan surga dan tahap selanjutnya untuk perkembangan spiritual
atau tahap untuk mencapai penerangan sempurna.
Sidharta Gautama sudah membuktikan bagaimana ketenangan hidup tercapai ketika kita mampu menjauhi nafsu duniawi. Pilihan untuk meninggalkan segala kemewahan hidup yang di miliki, membawa Sidharta Gautama tidak lagi tergoda oleh ketamakan dan kerakusan.
Ajaran Buddha yang di bawa Sidharta Gautama mengajak pengikutnya untuk menebarkan cinta kasih dan semangat membantu sesama. Kita tidak pernah akan merugikan ketika menolong orang membutuhkan bantuan. Bahkan kita akan merugi ketika menelantarkan mereka yang sedang menderita.
Buddha sangat menjauhi kekerasan, karena itu menimbulkan penderitaan bagi orang lain. Buddha selalu menerima segala perlakuan kasar kepada dirinya tanpa mau membalas, karena ia tahu bahwa mereka yang berlaku kasar tidak tahu bahwa ia sedang melukai dirinya sendiri.
Sidharta Gautama sudah membuktikan bagaimana ketenangan hidup tercapai ketika kita mampu menjauhi nafsu duniawi. Pilihan untuk meninggalkan segala kemewahan hidup yang di miliki, membawa Sidharta Gautama tidak lagi tergoda oleh ketamakan dan kerakusan.
Ajaran Buddha yang di bawa Sidharta Gautama mengajak pengikutnya untuk menebarkan cinta kasih dan semangat membantu sesama. Kita tidak pernah akan merugikan ketika menolong orang membutuhkan bantuan. Bahkan kita akan merugi ketika menelantarkan mereka yang sedang menderita.
Buddha sangat menjauhi kekerasan, karena itu menimbulkan penderitaan bagi orang lain. Buddha selalu menerima segala perlakuan kasar kepada dirinya tanpa mau membalas, karena ia tahu bahwa mereka yang berlaku kasar tidak tahu bahwa ia sedang melukai dirinya sendiri.
Ketua Umum
DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) sekaligus Ketua Umum Panitia
Waisak Nasional Indonesia 2556 BE/2012 Siti Hartati Murdaya berharap Waisak
dijadikan sebagai momentum umat Buddha mengikuti jejak Sang Budha Gautama saat
berjuang melawan hawa nafsu. "Pada intinya, melawan hawa nafsu sang ego
karena sang "aku" inilah sumber malapetaka dan segala penderitaan
lahir dan batin".
Waisak 2556
kapankah manusia terbebas dari tantha ?
sehingga terbebas dari samsara
sang buddha mencoba mencari jawab
belajar memahami akar penyebab
berabad-abad waktu berlalu
dan dhammanya melintas waktu
namun manusia tetaplah alpa
terjebak pada pusaran karma
kini di malam purnama sidhi
saatnya kita menilik diri
belajar dan membuka hati
khusyuk dalam heningnya samadhi
selamat merayakan waisak
kembali pada heningnya nurani
yang tulus bersih dan murni
Akhirnya
satu harapan besar dari hari Waisak tersebut adalah merenungi segala
perbuatannya dan setiap saat selalu hidup dengan rasa cinta kasih tanpa
kebenciaan , seperti yang tertulis di dalam Dhammapada,
“ Kebencian tidak akan selesai jika di
balas dengan kebencian , tetapi hanya dengan
memaafkan dan memberi cinta kasihlah maka kebenciaan akan lenyap”.
Selamat
Hari Tri Suci Waisak 2556 BE kepada seluruh umat buddha yang jatuh pada
tanggal 6 mei 2012.
ol
ol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar