Laman

Rabu, 29 Agustus 2012

SURGA 10 PROVINSI DI SUMATERA



Jam Gadang
Sebagaimana banyak pulau-pulau lain di Indonesia yang sangat indah dan kaya akan budaya maupun sumber daya alam, Sumatera adalah rumah bagi beragam budaya, adat istiadat, tradisi dan seni yang unik. Bahkan pulau ini kerap di juluki Pulau Emas, karena berbagai kekayaan yang di milikinya.
Sumatera di masa lalu juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari dua pusat peradaban Indonesia, yaitu Kerajaan Samudera Pasai dan Sriwijaya. Kerajaan-kerajaan itu, utamanya Sriwijaya, dengan segala kebesarannya telah menjadi inspirasi bagi bangsa kita hingga saat ini untuk membangun Negara Kesatuan. 
Pulau Sumatera juga amat kaya dengan potensi alam. Riau dengan Minyak Kelapa Sawitnya, dataran tinggi Gayo dengan komoditi unggulan Kopi, serta lapangan Gas terbesar di dunia, di samping banyak potensi alam lainnya, mejadi bukti kekayaan potensi alam Pulau Sumatera.
 

Tahun 2004 seluruh dunia mengheningkan cipta saat gempa bumi berkekuatan 8.5 SR dan gelombang Tsunami menghantam wilayah terdepan Indonesia. Semuanya musnah tapi tidak harapan orang-orang di Sumatera. Tanah yang di puja, tanah yang di cari oleh pelbagai bangsa menampakan wajah sedih paling sempurna waktu itu. Jika ada suara manusia, maka itu adalah suara tangis paling memilukan yang pernah kita dengar selama ini. Sekuat apa pun seseorang mengenggam kehidupan, semuanya hanyut oleh kuatnya gelombang Tsunami.

Tahun 2007, 2009, 2010, dan 2012 susul menyusul gempa mengguncang tanah Sumatera. Tahun-Tahun yang bisa di katakan tahun yang tidak pernah diam. Meski sempurna, duka itu berlalu jua. Sebab di langit masih menampakan warna biru, masih ada angin yang membawa perahu ke lautan dan matahari masih bersahabat menerpa wajah-wajah orang Sumatera. Senyum serta semangat mereka masih kita lihat. Dan tak sejengkal pun tanah itu di tinggalkan. Maka keraslah orang Sumatera, seperti yang di sangkakan orang, sepertinya kerasnya harapan agar tetap mengada bersama puluhan ribu pulau lainnya di Indonesia. Sehingga saat menapaki tanah ini, kita akan tahu begitu kuatnya rasa persaudaraan satu sama lain.

Inilah negeri Swarna Bhumi yang sejak ribuan tahun lalu di kenal sebagai tanah emas yang tak ada habisnya.

ASAL MULA SUMATERA

Pulau ini di kenal pula dengan nama lain yaitu Pulau Percha, Andalas,Swarnadwhipa, Swarna Bhumi, Dan Bhumi Malayu. Bagaimana sejarahnya?

Kata Sumatera yang kita kenal sekrang tidak bisa lepas dari kisah petualangan berbagai bangsa dunia mencari emas. Kisah sumatera dapat di telusuri dari penjelajahan bangsa Arab, Persia, Cina, Portugis, Belanda, India sampai pelaut-pelaut di Nusantara.

Di Yunani, Sumatera di kenal dengan nama Taprobana pada peta yang di buat oleh Klaudios Prolemaios di abad ke-2. Meski sejumlah ahli meragukan Taprobana adalah Sumatera, Namun pulau ini telah di kenal oleh bangsa Arab ribuan tahun silam saat mencari resep " Parfum dan Pengawet". Bahkan ada yang mengatakan pulau Sumatera telah di kenal sejak zaman Nabi Sulaiman dan Nabi Isa Almasih.
Sejumlah bukti adanya hubungan antara penduduk Sumatera dan bangsa di dunia terutama bangsa Arab, Persia, Cina, dan juga India dapat di temukan di pelabuhan kecil daerah barus. Bangsa Arab membutuhkan  kemenyan juga kapur barus untuk di persembahkan kepada raja. Hasil hutan ini di jadikan wewangian dan juga bahan untuk mengawetkan tubuh Raja-Raja Mesir kuno.

Selanjutnya penulis Cina, yakni I-Tsing yang tinggal di Sriwijaya, mencatatkan perjalanannya di pulau yang di sebut dengan chin-chou, berati " negeri emas". Dalam kitab-kitab orang India berbahasa Sansekerta di sebut dengan Swarnadwipa ( "pulau emas") atau Swarna Bhumi ("tanah emas")

Setiap bangsa yang menginjakkan kaki di Sumatera punya cara sendiri untuk menyebutkannya.

Pelabuhan Muaro Padang
Kata Sumatera berasal dari nama Kerajaan di Aceh abad ke 13-14 yakni Kerajaan Samudera ( Samudera Pasai atau Samudera Darussalam Atau Kesultanan Pasai ). Ibnu Bathutah seorang penjelajah  dari Maroko menuliskan dengan nama Samatrah. Nama ini kemudian di gunakan untuk menyebut seluruh pulau. Namun ada juga yang menyebut dengan " Camatara", "Samatara", "Camatora", "Somatra". Bahkan ada juga yang menulisnya menjadi "Samoterra", "Zamatra", dan  "Zamatora". Akhirnya sejak pelaut dan pedagang dari Belanda dan Inggris mulai banyak menuliskan kata Sumatera, lama kelamaan nama Sumatera inilah yang di gunakan sampai sekarang.

WILAYAH ADMINISTRATIF DI SUMATERA

Sistem pemerintahan yang menggerakkan roda pembangunan di Sumatera menyelaraskan kearifan lokal dan modernitas demi tercapainya masa depan Sumatera.

Pulau Sumatera memiliki 10 provinsi dengan masing-masing luas wilayah administrasi pemerintahan :
  • Provinsi Aceh 57.365,57 km2
  • Provinsi Sumatera Utara 71.680 km2
  • Provinsi Sumatera Barat 42.297,30 km2
  • Provinsi Sumatera Selatan 99.598,689 km2
  • Provinsi Riau 87.023,66 km2
  • Provinsi Jambi 53.435,72 km2
  • Provinsi Bengkulu 19.788.,70 km2
  • Provinsi Lampung 35.376,50 km2
  • Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 81.725,14 km2
  • Provinsi Kepualauan Riau 252.601 km2

Dengan demikian wilayah admistratif 10 Provinsi di pulau Sumatera meliputi darat dan laut sekira 466.566,139 km2.

SURGA 10 PROVINSI DAN CITA RASA SUMATERA
Belitung

Sepuluh tempat bak surga menghipnotis jutaan wisatawan dari berbagai belahan dunia. Tempat-tempat ini menawarkan pengalaman dan juga petualangan bagi siapapun dari masakan dari resep para leluhur hingga tempat wisata, sebagai berikut ini :
Aceh~Pesona Pulau Weh~Ayam Sampah Nan Lezat
Sumatera Utara~Wisata Geologi dan Budaya di Danau Toba~Nasi lemak pedas a'la melayu
Sumatera Barat~Mentawai~Rendang Padang
Riau~Bakar Tongkang~Ikan Patin Pedas
Pulau Weh Aceh
Jambi~Gunung Kerinci~Ikan Patin Rasa Durian
Sumatera Selatan~Sungai Musi~Pempek
Bengkulu~Bangunan Bersejarah~Ikan Pais a'la Presiden Soekarno
Lampung~Krakatau~Keripik Pisang
Bangka Belitung~Wisata Bahari~Lempah Kuning
Riau~Masjid Raya Sultan dan Gurindam Dua Belas~Sup Ikan          Merah

BUDAYA, ALAT MUSIK, DAN TARI

Selain kekayaaan alam dan keindahan panoramanya, kita juga di berkati dengan keragaman Suku Bangsa dan Budayanya. Mulai dari Sabang sampai Merauke, kita akan mendapati beragam seni, tradisi, dan budaya yang masing-masing memiliki kekhasan dan keunikannya, Indonesia adalah rajutan warna-warni dari hadirnya kekayaan, kesemarakan dan keragaman.
Seni yang bisa di sebut paling dekat dengan masyarakat adalah seni tari atau tari-tarian. Hampir semua daerah mempunyai tarian khas yang di wariskan leluhurnya, atau malah ada yang bercampur atau akulturasi dengan budaya-budaya luar.
Tarian tak bisa semata-mata di lihat dari gerakan saja, tapi hubungan batin antara penari, masyarakat, dan alam sekitarnya. Dalam kelincahan, kelembutan, dan semangat tarian selalu ada nilai-nilai yang coba di sampaikan.
Seni tari semakin berkembang dengan masuknya kebudayan Hindu, Buddha, dan Islam ke Indonesia. Karena itulah banyak tarian nusantara yang tercipta dengan tujuan sebagai ritual keagamaan ataupun sebagai media dakwah agar lebih di terima masyarakat. Selain di pengaruhi  nilai-nilai keagamaan, tarian nusantara Indonesia juga di pengaruhi  oleh unsur politik.

Tari Serampang Dua Belas
Salah satu wilayah yang banyak menyimpan kekayaan aneka ragam bentuk-bentuk tarian adalah pulau Sumatera. Salah satu pulau  yang di kenal mempunyai banyak ragam bahasa, suku, dan adat istiadat yang menyimpan misteri juga kearifan lokal. Kebijaksanaan dalam menjalani dan memandang hidup, oleh rakyat Sumatera sering kali di perlihatkan lewat kesenian, salah satunya melalui tarian :
  • Tari Saman
  • Tari Seudati
  • Tari Tor-Tor
  • Tari Serampang Dua Belas                                                    
  • Tari Piring                                                                           
  • Tari Selampit Delapan
  • Tari Sekapur Sirih
  • Tari Cangget
SUKU-SUKU DI SUMATERA

Pembeda itu terlihat dari bahasa, pakaian, seni-budaya, bentuk rumah, cara menyambung hidup, hingga pranata sosial yang berlaku dalam masyarakat. Seluruh perbedaan itu mencerminkan BHINNEKA TUNGGAL IKA, Semboyan Resmi REPUBLIK INDONESIA.

Kita masih dapat melihat warisan leluhur Sumatera hingga kini lewat suku :
  • Suku Mentawai
  • Suku Kubu 
  • Suku Batak
  • Suku Melayu
KERAJINAN TRADISIONAL SUMATERA

ulos
Ragam dari kerajinan tradisional pulau Sumatera antara lain tenunan, ukiran, anyaman, bordir/sulam, hingga perkakas.  Dari aceh misalnya, daerah yang mayoritas penduduknya beragama islam ini corak budayanya amat kental di pengaruhi Timur Tengah. Kerawang Gayo dan Rencong menjadi hasil tangan khas dari Bumi Serambi Mekah. Kita akan menjumpai ulos, kain hasil tenunan itu menunjukkan nilai budaya Batak yang sangat luhur. Hal itu di tunjukkan oleh motif  dan ragam warna yang tersemat pada lembaran ulos.

Sedangkan jika kita tetirah ke Minang dan Pulau Nias, ragam ukiran akan menyambut mata. Corak dan warna ukiran itu menunjukkan bahwa di sana nilai-nilai budayanya tak bisa di anggap enteng. Setiap lekuk dan guratan pada kayu memiliki makna yang jadi panduan hidup. Bergeser ke Kepulauan Riau, tepatnya di Pulau Natuna kita akan mempunyai anyaman pandan.

songket
Kreatifitas warga pada kepulauan di utara Pulau Sumatera ini layak di acungi jempol. Dengan bermodal daun pandan , mereka dapat berkreasi tanpa batas. Dan di Sumatera Selatan yang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya,kita akan menjumpai songket. Nilai budaya dalam lembaran songket ini menunjukkan kebesaran Sriwijaya di masa silam dengan gemerlap warna emasnya.

Kerajinan tradisional seperti tenunan, ukiran, anyaman, bordir/sulam, hingga perkakas bergerak dari desa mewarnai perkotaan. Hasil kerajinan yang indah ini pun di kirim ke luar negeri sebagai cinderamata.

SUMBER DAYA ALAM

Gunung berapi yang ada di sumatera adalah berkah bagi kehidupan. tanahnya subur, dapat di tanami, berbagai macam tumbuhan yang menyumbang perekonomian indonesia.
William Marsden salah seorang  yang mengakui kekagumannya terhadap tanah sumatera. dalam bukunya yang berjudul History of Sumatera ( 1784 ), William dan sejumlah penjelajah dari negeri Arab, Cina, dan Eropa telah mengakui Sumatera sebagai tanah kaya raya.
CPO

karet
batubara



Ratusan tahun pasca catatan William terbit, lembaga bisnis sawit dunia mencatat bahwa Indonesia telah produksi sekitar 43 persen dari total produksi minyak mentah sawit ( Crude Palm Oil / CPO ) dunia. Luas lahan sawit Indonesia mencapai 9,7 ha dan sekitar 5 juta ha ada di sumatera. Kegiatan ini juga membuka lapangan pekerjaan yang luas. Sekitar 42 persen lahan kelapa sawit di miliki oleh petani kecil.

Indonesia merupakan negara kedua penghasil karet penghasil karet alami terbanyak di dunia. Di masa depan, permintaan terhadap karet alami dan karet sintetik masih akan cukup signifikan, karena di dorong oleh pertumbuhan industri otomotif yang tentunya membutuhkan ban berbahan baku karet sintetik dan karet alami. Sumatera adalah produsen terbesar di Indonesia dan masih memiliki peluang peningkatan produktivitas. Koridor Ekonomi Sumatera menghasilkan  65 persen dari produksi karet nasional.
Dari total cadangan sumber daya batu bara ( 104,8 miliar ton ) di Indonesia, sebesar 52,4 miliar ton berada di sumatera, dan sekitar 90 persen  dari cadangan di Sumatera tersebut berada di Sumatera Selatan. Dengan produksi batu bara untuk jangka waktu panjang. Contoh-Contoh hasil alam Sumatera inilah yang menyedot perhatian dunia kepada Sumatera sejak ratusan tahun. Bahkan Inggris dan Belanda bergantian menjajah kawasan ini. di atas tanah , berserakan tumbuhan produksi yang tersebar di Aceh sampai lampung, sebut saja Kelapa dan Kopi.

Di perut buminya, ada minyak bumi, batubara, emas, mineral penting lainnya. Di laut, ragam jenis ikan tersedia. Sumatera di sebut Marsden sebagai Island Of Gold, dalam artinya yang harfiah dan kiasan. 

Potensi industri ekstratif di Indonesia tersebar dalam komoditas yang sangat bervariasi, mulai dari minyak, gas, batubara, dan mineral seperti timah, nikel, emas, tembaga, perak, pasir besi, mangan, dll. Sumber daya alam trersebut tersebut tersebar di berbagai daerah di Indonesia, dan menyumbang 10-40 persen dari produksi dunia . Oleh karenanya, potensi industri ekstratif Indonesia masih cukup besar untuk di kembangkan khususnya di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di kawasan yang belum di eksplorasi secara insentif.

Pada saat yang sama, pemerintah juga akan terus mengembangkan 34 pulau kecil, di sekitar Pulau Sumatera, yang menjadi garda sekaligus pintu gerbang negara yang berbatasan dengan negara-negara tetangga. Pulau Nipah, misalnya, adalah pintu terdepan Indonesia untuk pertahanan, keamanan, dan penegakan hukum. Sebuah pulau kecil yang memiliki arti strategis dalam pertahanan sekaligus memainkan peran penting dalam keamanan pelayaran di Selat Malaka. Pemerintah akan terus mengembangkan Pulau Nipah dan juga pulau-pulau lain dengan pendekatan kesejahteraan, pertahanan, dan keamanan negara, serta lingkungan hidup.

Pesona Pulau Sumatera memang tidak ada habisnya untuk di ceritakan. Saya berharap artikel ini akan makin meningkatkan pemahaman kita terhadap Pulau Sumatera agar masing-masing dapat memberikan inspirasinya dan dorongan bagi kita semua untuk makin bekerja keras membangun dan memakmurkan, tidak hanya Pulau Sumatera, tetapi juga seluruh Tanah Air Indonesia tercinta dalam melanjutkan pembangunan menuju terwujudnya masyarakat adil, makmur, dan sejahtera.
My aunts are sweet and cute
My grandfather and aunt


 ol









Sabtu, 18 Agustus 2012

Dirgahayu Kemerdekaan ke 67 Republik Indonesia


 

Hari ini, 17 Agustus 2012, merupakan hari bahagia bagi bangsa Indonesia. gegap gempita menghinggapi setiap insan Indonesia di berbagai penjuru tanah air. Perayaan hari yang istimewa ini dilakukan dengan cara beragam, mulai dari mengadakan perlombaan, panjat pinang, bahkan ada yang merayakannya di sungai di Kota Surabaya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita masih mengingat sejarah bagaimana proses bangsa ini menuju kemerdekaannya? SD, SMP, SMA, dapat dikatakan hampir semua warga negara Indonesia pernah mendapatkan materi yang satu ini walaupun hanya kulit-kulitnya saja yang baru diketahui saat ini. Mari kita kembali melihat kilas balik perjalanan menuju Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) 17 Agustus 1945.
Sedikit akan dibahas mengenai proses detik-detik menjelang kemerdekaan RI pada periode 1924-1945. Pada 1924, Perhimpunan Indonesia (PI) yang berkedudukan di Belanda mulai merumuskan konsepsi ideologi politiknya bahwa tujuan kemerdekaan politik harus didasarkan pada 4 (empat) prinsip: persatuan nasional, solidaritas, non-kooperasi, dan kemandirian (self-help). Ternyata tiga dari empat prinsip tersebut merupakan prinsip yang telah dimiliki oleh organisasi-organisasi, yaitu persatuan nasional (Indische Partij), non-kooperasi (politik kaum komunis), dan kemandirian (Sarekat Islam).
Ternyata Soekarno juga mempunyai paham keidealan yang sama dengan PI. Soekarno menulis esai dalam majalah Indonesia Moeda, yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”. Di dalam esai tersebut, Soekarno berpandangan bahwa ketiga paham tersebut menjadi roh pergerakan-pergerakan di Asia, termasuk Indonesia.
Kemudian sampailah pada 1928, tepatnya pada 28 Oktober. Isinya singkat, tapi mempunyai makna yang sangat dalam. Visinya yang mempertautkan segala keragaman yang ada ke dalam kesatuan tanah air dan bangsa didasarkan atas kesamaan tumpah darah, bangsa, dan bahasa persatuan (civic nationalism) yang terangkum dalam 3 poin isi Sumpah Pemuda. Dokumen inilah yang selanjutnya akan menjadi landasan untuk merumuskan dasar negara Indonesia Merdeka. Saat itu juga, Wage Rudolf Supratman, mempertontonkan hasil karyanya di depan para peserta sidang dengan menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ yang sampai saat ini menjadi lagu kebangsaan Indonesia.


Indonesia Raya
W.R. Supratman

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya 

Tahap selanjutnya yakni masa perumusan. Diawali oleh pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan) BPUPK pada 29 April 1945 yang bertugas merumuskan dasar negara. Jumlah anggota awalnya hanya 63 orang, kemudian bertambah menjadi 69 orang, yang terdiri dari golongan Islam, golongan pergerakan, golongan birokrat (kepala jawatan), wakil kerajaan (kooti), pangreh praja (residen/wakil residen, bupati, walikota), golongan peranakan (Tionghoa, Arab, Belanda), dan golongan Jepang. Selama masa sidang BPUPK 29 Mei-1 Juni 1945, 3 orang (Soepomo, Mohammad Yamin, Soekarno) mengemukakan gagasan dasar negara. Gagasan Soekarno lah yang diambil sebagai dasar negara dan diberi nama ‘Pancasila’ dan 1 Juni 1945 lahirlah gagasan tersebut yang dikenal sebagai Hari Lahir Pancasila.
Berakhirlah masa sidang I BPUPK, berlanjut ke sidang II (10-17 Juli 1945). Selama masa reses menuju sidang II BPUPK, banyak terobosan-terobosan yang terjadi. Salah satunya pembentukan Panitia Kecil yang beranggotakan 9 orang, dikenal dengan sebutan “Panitia Sembilan”, yang dilakukan oleh Soekarno. Kesembilan orang tersebut berasal dari 2 golongan, yakni golongan Islam dan golongan kebangsaan. Panitia Sembilan bertugas untuk menyusun rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, yang di dalamnya termuat Dasar Negara. 22 Juni 1945, Rancangan Pembukaan UUD selesai dan dikenal sebagai “Piagam Jakarta”. Rancangan tersebut mencerminkan usaha kompromi antara golongan Islam dan golongan kebangsaan.
Hasil rumusan Panitia Sembilan berupa Piagam Jakarta dilaporkan pada masa sidang II BPUPK. Kemudian mendapat respons keberatan dari Latuharhary mengenai “tujuh kata” dalam poin I Piagam Jakarta yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Karena kebesaran para tokoh kemerdekaan saat itu, akhirnya poin I berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Lalu dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 12 Agustus 1945. Tidak jauh dari tanggal itu, tersiar kabar bahwa Jepang telah dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat (AS) di 2 kota dan tanggal yang berbeda, yaitu Hiroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (9 Agustus). Saat itulah pengaruh Jepang terhadap Indonesia mulai melemah, dan semakin melemah. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para tokoh intelektual untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sebelum proklamasi, sempat ada penculikan Soekarno dan Hatta oleh para pemuda ke Rengasdengklok pada 16 Agustus dan mendesak keduanya agar segera menyatakan Negara Indonesia sebagai negara merdeka. Puncaknya, 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan teks proklamasi sebagai tanda Indonesia telah menjadi negara merdeka yang disambut meriah oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dari sedikit uraian sejarah panjang perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia, sudah sepatutnya sebagai anak bangsa kita mengingat kembali sejarah perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita, yang dengan darah, jiwa dan raganya rela berkorban demi terciptanya suatu bangsa yang mampu bebas dari penjajahan negara lain. Saat ini kita harus terus mengisi kemerdekaan dengan pembangunan-pembangunan peradaban bangsa sehingga Indonesia mampu menjadi bangsa yang bermartabat dan diperhitungkan di mata dunia.

Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi


Naskah asli proklamasi yang ditempatkan di Monumen Nasional

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.

Peringatan 17 Agustus 1945

Setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan ini dengan meriah. Mulai dari lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, sampai upacara militer di Istana Merdeka, seluruh bagian dari masyarakat ikut berpartisipasi dengan cara masing-masing.

Lomba-lomba tradisional

Perlombaan yang seringkali menghiasi dan meramaikan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI diadakan di kampung-kampung/ pedesaan diikuti oleh warga setempat dan dikoordinir oleh pengurus kampung / pemuda desa :
  • Panjat pinang
  • Balap bakiak
  • Tarik tambang
  • Sepeda lambat
  • Makan kerupuk
  • Balap karung
  • Pemecahan balon
  • Pengambilan koin 
  • Lari kelereng
Di usia kemerdekaan Indonesia yang sudah menginjak 67 tahun ini, kita harus bersyukur, kerena banyak kemajuan yang telah berhasil  diraih, baik dibidang politik dan keamanan, perekonomian maupun kesehjateraan rakyat. Sejalan dengan upaya pembangunan, peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan ini diharapkan menjadi momentum bagi komunitas iptek untuk lebih meningkatkan inovasi bagi kesehjateraan rakyat. tidak dipungkiri juga, bahwa kemampuan suatu bangsa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, sangat bergantung pada kemampuan bangsa tersebut dalam meningkatkan inovasi. Inovasi yang berbasis pada kapitalisasi produk riset dan teknologi akan memberi dampak langsung pada peningkatan produktivitas yang berkelanjutan, yang pada akhirnya dapat mempercepat  pertumbuhan suatu bangsa. Peningkatan produktivatas diarahkan pada penciptaan keunggulan kompetitif yang dapat dicapai dengan memperkuat sumber daya manusia iptek. Sebab, warisan ekonomi berbasis sumber daya alam, yang bertumpu pada labor intensive perlu ditingkatkan secara bertahap menuju skilled labor intensive dan kemudian menjadi humas capital intensive. Peningkatan kemampuan modal manusia yang menguasi iptek sangat diperlukan ketika Indonesia memasuki tahap Innovation-driven economies.
















ol