Laman

Minggu, 27 November 2011

Tarian Budaya Barongsai


Barongsai Teratai Tebing Tinggi
Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan Utara ( Nan Bei ) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan. Ternyata upaya itu berjalan sukses hingga akhirnya tarian barongsai pun melegenda hingga kini. Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17,ketika terjadi migrasi besar dari Cina Selatan.

Catatan tertua mengenai tarian ini, ditemukan di daerah barat kekuasaan dinasti Han, sekitar tahun 200 sebelum masehi, perayaan mempergunakan naga yang bisa sampe 100 meteran. Sebenarnya buat memuji dewa air. Agar hujan bisa turun dan tanaman bisa berkembang dengan baik sehingga bisa panen. Sebelum dilaksanakan, biasanya orang-orang didaerah yang akan mengadakan upacara, bakal melakukan upacara penyucian selama 3 hari lamanya.

Sebenarnya, naga ini, dibuat dari kertas, bambu, kayu, rotan, dan bahan cat untuk menghias. Lapisan seekor naga pun sebenarnya pada awalnya adalah sembilan, tetapi sekarang telah memiliki banyak pengembangan, hingga ada yang melebihi 20 lapisan. Biasanya setiap lapisan ini memberikan warna kepada sang naga dengan perlambangan-perlambangan. Pada dasarnya sang naga berwarna hijau yang melambangkan panen yang melimpah, lapisan berwarna kuning keemasan melambangkan tanah atau kesuburan, merah menyala pada ekor dan sisik-sisiknya melambangkan kegembiraan, lapisan berwarna biru dengan ornamen seperti bentuk ombak lautan, dan sepanjang tubuh sang naga biasanya dihiasi dengan warna emas dan perak yang menghiasi keseluruhan badan ini, untuk melambangkan kegembiraan dan kemeriahan perayaan.


Lengkapnya, tarian naga ini biasanya diikuti dengan seseorang yang mengangkat mutiara berwarna merah. Mutiara ini dikatakan melambangkan matahari atau kebijaksanaan. Pertanda bahwa sang naga, akan terus mengejar kebijaksanaan. Tarian naga ini juga biasanya diikuti dengan pemberian angpao ataupun ikatan selada air dengan pita merah, sebagai tanda persembahan buat Sang Naga.
Tarian Singa atau shi wu, juga punya perlambangannya sendiri. Singa dalam adat dan budaya melambangkan kekuatan, keagungan, keberanian, dan kemampuannya untuk menolak bala.


Tarian Singa menurut legendanya adalah anak ke sembilan dari naga dan memang tugasnya buat jadi guardian, Di mana-mana kalau kita ke daratan tiongkok sekalipun biasanya patung singa tuh, ditaruh di depan istana, kantor-kantor, rumah, dan tempat-tempat yang penting. Yang paling terkenal adalah 485 patung singa yang menjadi penjaga jembatan Marcopolo ( Luguo Qiao ).

Tarian singa barongsai ini, butuh ilmu wushu lebih tinggi daripada tarian naga, yang kurang lebih mengandalkan kekuatan dan harmonisasi, biasanya tergantung jenisnya, tarian singa ditarikan oleh 2 orang. Kenapa kita bilang tergantung jenisnya, ini dikarenakan rupanya, singa yang ditarikan itu ada 2 jenis, Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat, memiliki warna dominan, merah, orange, dan kuning. Singa Utara, biasanya disebut sebagai Peking Lion, atau Singa Peking, dikarenakan bentuknya yang menyerupai anjing Peking. Penampilan Singa Utara kelihatan lebih natural dan mirip singa kalo dibandingkan oleh Singa Selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua atau empat.
Singa Selatan biasanya disebut juga Cantonese Lion, dan terbagi atas dua jenis, sesuai dengan pengusaha kertas yang memberikan model utama untuk penggambaran jenis Singa Selatan ini. Jenis singa Fat San, memiliki mulut yang lebih melengkung, sebuah tanduk, dan ekor yang panjang. Sementara jenis singa
Hok San, memiliki mulut yang lebih mendatar, tanduk yang melingkar, dan ekor yang pendek. Sekarang ini, jenis singa Fat San, lebih digemari. Selain itu juga terdapat, gabungan kedua singa ini disebut sebagai Fat Hok Lion, yang memiliki mulut berbentuk lengkung, dengan ekor yang pendek. Selain itu dalam perkembangannya sekarang, terdapat pula versi mini dari singa-singa asli berbadan besar, yang dimainkan oleh anak-anak. Kepala Singa Selatan dilengkapi dengan tanduk sehingga kadangkala mirip dengan binatang 'Kilin'. Gerakan antara Singa Utara dan Singa Selatan juga berbeda. Bila Singa Selatan terkenal dengan gerakan kepalanya yang keras dan melonjak-lonjak seiring dengan tabuhan gong dan tambur, gerakan Singa Utara cenderung lebih lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki.
 

Yang paling akhir dan tidak kalah penting adalah iring-iringan waktu tarian-tarian ini dilaksanakan. Bunyi apakah yang menjadi ciri khas atraksi ini ? Ya, benar Dung dan ceng.  Yang paling penting 2 instrumen



Kepala Barongsai
Gendang Barongsai
 Drum Cina yang bikin bunyi dung dan Simbal Cina yang bikin bunyi ceng. Drum ini dibuat dari bahan kayu keras dengan kulit kerbau yang menutupi sepanjang lingkaran atas dan didalam drum ini terdapat lempengan logam, yang menjadi penghasil bunyi dan penguat bunyi agar suara drum terkesan menjadi lebih dalam. Pemain drum adalah pemimpin seluruh kegiatan ini. Gerakan naga dan singa ini ditentukan oleh bunyi drum. Sementara pemain simbal, akan berada disamping penabuh drum, yang akan melihat ke arah mata sang singa.                                                                                                                                                                                                       
Pak Setiawan dan keluarga
Barongsai di Indonesia
Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17, ketika terjadi migrasi besar dari Cina Selatan.
Barongsai di Indonesia mengalami masa maraknya ketika zaman masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan. Setiap perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan di berbagai daerah di Indonesia hampir dipastikan memiliki sebuah perkumpulan barongsai. Perkembangan barongsai kemudian berhenti pada tahun 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Karena situasi politik pada waktu itu, segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia dibungkam. Barongsai dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi. Perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia setelah tahun 1998 membangkitkan kembali kesenian barongsai dan kebudayaan Tionghoa lainnya. Banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan. Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang tak hanya kaum muda Tionghoa yang memainkan barongsai, tetapi banyak pula kaum muda pribumi Indonesia yang ikut serta.
jiwa ragaku untuk kemanusian
 Pada zaman pemerintahan Soeharto, barongsai sempat tidak diijinkan untuk dimainkan. Satu-satunya tempat di Indonesia yang bisa menampilkan barongsai secara besar-besaran adalah di kota Semarang, tepatnya di panggung besar kelenteng Sam Poo Kong atau dikenal juga dengan Kelenteng Gedong Batu. Setiap tahun, pada tanggal 29-30 bulan enam menurut penanggalan Tiong Hoa (Imlek), barongsai dari keenam perguruan di Semarang, dipentaskan. Keenam perguruan tersebut adalah:
1. Sam Poo Tong, dengan seragam putih-jingga-hitam (kaos-sabuk-celana), sebagai tuan rumah
2. Hoo Hap Hwee dengan seragam putih-hitam
3. Djien Gie Tong (Budi Luhur) dengan seragam kuning-merah-hitam
4. Djien Ho Tong (Dharma Hangga Taruna) dengan seragam putih-hijau
5. Hauw Gie Hwee dengan seragam hijau-kuning-hijau kemudian digantikan 
                                                   Dharma Asih dengan seragam merah-kuning=merah
                                               6. Porsigab (Persatuan Olah Raga Silat Gabungan) dengan seragam               biru-kuning-biru                                     
 
Walaupun yang bermain barongsai atas nama ke-enam kelompok tersebut, tetapi bukan berarti hanya oleh orang-orang Semarang. Karena ke-enam perguruan tersebut mempunyai anak-anak cabang yang tersebar di Pulau Jawa bahkan sampai ke Lampung. Di kelenteng Gedong Batu, biasanya barongsai (atau di Semarang disebut juga dengan istilah Sam Sie) dimainkan bersama dengan Liong (naga) dan Say (kepalanya terbentuk dari perisai bulat, dan dihias menyerupai barongsai berikut ekornya).
Saat ini barongsai di Indonesia sudah dapat dimainkan secara luas, bahkan telah meraih juara pada kejuaraan di dunia. Dimulai dengan Barongsai Himpunan Bersatu Teguh (HBT) dari Padang yang meraih juara 5 pada kejuaraan dunia di genting – malaysia pada tahun 2000. Hingga kini barongsai Indonesia sudah banyak mengikuti berbagai kejuaraan-kejuaraan dunia dan meraih banyak prestasi. Sebut saja beberapa nama seperti Kong Ha Hong (KHH) – Jakarta, Dragon Phoenix (DP) – Jakarta, Satya Dharma – Kudus, dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) – Tarakan. Bahkan nama terakhir, yaitu PSMTI telah meraih juara 1 pada suatu pertandingan dunia yang diadakan di Surabaya pada tahun 2006. Perguruan barongsai lainnya adalah Tri Pusaka Solo yang pada pertengahan Agustus 2007 lalu memperoleh Juara 1 President Cup.

ol

                                                                                                                    



Selasa, 15 November 2011

Wawasan kebangsaan Mewujudkan Visi Indonesia 2025

Pendidikan Wawasan Kebangsaan di perlukan untuk memantabkan rasa dan sikap Nasionalisme yang tinggi, rasa senasib sepenanggungan, Sebangsa Setanah Air, satu tekad bersama yang lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan orang perorangan, Kelompok , Golongan, Suku Bangsa atau daerah di segala bidang untuk mencapai tujuan nasional. hal ini, bukanlah berati menghilangkan kepentingan orang perorang, Kelompok, Suku bangsa, atau Daerah, melainkan tetap menghormati, mengakui, dan memenuhinya, selama tidak bertentangan dengan kepentingan nasional atau kepentingan masyarakat banyak.

Memantabkan Wawasan Kebangsaan, juga bertujuan untuk menjaga kepentingan nasional kita, untuk mejadi negara maju, terhormat, dan bermartabat di mata dunia dengan cara :
1. Memelihara eksentensi negara bangsa ( Nation State ) ; bagaimana kita dapat menjaga keutuhan NKRI dan mengamankan dari berbagai gangguan seperti konflik
, Separatis, dan Disentigrasi.
2. Memelihara integrasi nasional , yakni keutuhan Ideologis ( PANCASILA dan UUD 1945 ), Integrasi Sosial dan Integrasi Teritorial ( keutuhan wilayah ) dan
3. Melaksanakan pembangunan kembali kehidupan nasional yang mulai dari badai krisis Ekonomi, Politik, serta terjadinya stagnasi pembangunan nasional di banyak sektor.

Beberapa upaya yang dapat di lakukan dalam memantabkan Wawasan Kebangsaan , antara lain:
1.Meningkatkan kesadaran segenap komponen bangsa dari sabang sampai Merauke dari Miangas sampai pulau rote untuk menerima, mengormati, dan segala bentuk keragaman bangsa sebagai karunia tuhan yg maha kuasa.
2.Membangun Sikap, Moral, dan Etika segenap komonen bangsa sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 agar dapat meredam kepentingan kelompok dan golongan sendiri, dan lebih mengutamakan kepentingan Bangsa dan Negara.
3. Meningkatkan sosialisasi Wawasan Kebangsaan guna membangun kehidupan nasional yang harmonis.
4. Mengoptimalkan pembelajaran Wawasan Kebangsaan yang sejalan dengan proses reformasi dan tidak Indoktrinasi.
5.Membangun nilai-nilai luhur budaya atas Wawasan Kebangsaan untuk membangun semangat Otonomi Daerah sebagai bagian dari proses pembangunan untuk semua ( Development for All )
6. Meningkatkan rasa hormat kepada Simbol-Simbol Negara ( Bendera, Lambang Negara, Presiden, dll ),
kepada para Pahlawan  dan Perjuangan Bangsa  ( Heroisme ).
7. Meningkatkan keteladanan  dari para Pimpinan Nasional, agar tertanan rasa hormat  dan kebanggaan kepada Bapak Bangsa ( The Founding Father ) dan para penyelenggara negara.
dengan cara itu, sesungguhnya Wawasan Kebangsaan secara jelas dapat memberikan jaminan atas tercapainya kepentingan nasional baik kedalam maupun keluar. hal ini berati bahwa wawasan kebangsaan memberikan gambaran  dan arah yang jelas bagi kelangsungan hidup bangsa sekaligus perkembangan kehidupan bangsa ada negara di masa depan.

Atas nama Reformasi dan Demokatisasi, seringkali sebagian masyarakat tidak lagi memaknai Pancasila, UUD 1945, Wawasan Kebangsaan , dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan  berbangsa dan bernegara secara utuh. Keinginan untuk tidak tergabung dalam wilayah NKRI dari sebagian kelompok masyarakat, seolah mendapat angin di era reformasi ini. Untuk itu, ke depan, perlu terus di bangun dan di kembangkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara harmonis dan seimbang, dimana demokrasi dan kebebasan makin hidup, di sertai kepatuhan kepada Pranata Hukum ( Rule Of Low ), Toleransi, Serta Etika dan Aturan main yang di sepakati bersama. terkait dengan kepatuhan terhadap Pranata Hukum, pasal 2 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004 mengamanatkan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber Hukum Negara. Maka di dalam peyusunan segala peraturan perUndang-Undangan beserta Implementasinya di dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara harus berdasarkan Pancasila.

Wawasan Kebangsaan sebagai landasan visional, merupakan cara pandang bangsa indonesia terhadap diri dan lingkungannya yang sarwa nusantara sebagai  satu kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan dengan beberapa prinsip dasar, yaitu :
1. Pancasila, sebagai falsafah negara dan merupakan konsep untuk menjadikan negara sebagai sarana perjuangan mewujudkan cita-cita bangsa.
2. Persatuan dan kesatuan, sebagai prinsip untuk mengakumulasikan kekuatan nasional dalam mencapai tujuan bersama. persatuan bangsa merupakan gabungan suku-suku bangsa yang sudah bersatu sebagai sebuah bangsa, bangsa indonesia secara keseluruhan.
4. Kebangsaan sebagai prinsip untuk mewujudkan keinginan untuk hidup bersama dalam mencapai tujuan bersama. kebangsaan merupakan mekanisme kehidupan kelompokyang terdiri atas unsur-unsur yang beragam, dengan ciri-ciri persaudaraan, kesetaraan, kesetiakawanan, kebersamaan, dan kesediaan berkorban bagi kepentingan bersama.
5. Kesadaran akan pentingnya bersatu, dengan menghimpun dan memadukan segenap sumber daya yang dimiliki bangsa indonesia untuk mencapai tujuan bersama.
6. Persatuan dan kesatuan bangsa, agar dapat mempertahankan  jati diri dan ikatan batin bangsa indonesia sebagai bangsa besar disegani.
7.kesatuan wilayah nasional, yang dapat menjamin keutuhan ruang hidup dan sumber kehidupan bagi bangsa indonesia.
8. kesatuan bangsa indonesia dengan tanah airnya yang dapat menjaamin kelangsungan hidup dan pertumbuhan indonesia
9.kesatuan dalam kemajemukan  bangsa indonesia agar dapat bersatu walaupun berbeda - beda, untuk menjamin harkat dan martabat kemanusian.
10. satu kesatuan kekuasaan berdasarkan kedaulatan rakyat yang dapat menjamin kesejahteraan , kedaulatan dan kemerdekaannya.

Pendidikan Wawasan Kebangsaan di Era Reformasi untuk mewujudkan Visi Indonesia 2025
Undang - Undang Republik Indonesia nomor 17 Tahun 2007 tentang rencana pembangunan jangka panjang Nasional tahun 2005-2025 adalah " Indonesia yang Mandiri , Maju, Adil , dan Makmur".

Mandiri : Bangsa Mandiri adalah Bangsa yang mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang telah maju dengan mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri.
Maju : suatu bangsa dalam bentuk apapun, Bangsa di katakan maju apabila sumber daya manusianya memiliki kepribadian Bangsa, Berakhlak mulia, dan berkualitas Pendidikan yang tinggi.
Adil : Sedangkan Bangsa Adil berati tidak ada Diskriminasi dalam bentuk apapun, baik antar Individu, Gender, maupun wilayah.
Makmur : Kemudian Bangsa yang makmur adalah bangsa yang sudah terpenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, sehingga dapat memberikan makna arti penting bagi Bangsa - Bangsa lain di dunia.

Negara Kesatuan Republik  Indonesia lahir dari kesepakatan anak-anak bangsa dan kesedian berkorban dari para pendahulu kita. NKRI yang besar dan majemuk, mustahil berdiri tegak tanpa kesepakatan dan saling menghormati. Republik Indonesia luasa dan terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote mustahil bertahan, jiak daerah - daerah, tidak memiliki peran penting dalam berbagai momentum bersejarah.

Bangsa kita semakin rukun dan bersatu, karena kita memiliki jati diri bangsa yang khas.Kita juga mempunyai semangat perjuangan yang tinggi. Kita tidak pernah mengenal kata menyerah, apakah itu
 melawan penjajahan, melawan ketidakadilan, melawan kemiskinan, serta menghadapi berbagai bencana alam dan tantangan - tantangan krisis.

Kita dapat berdiri tegak, karena kita mampu bersatu sebagai sebuah bangsa, sebagai saudara senasib dan sepenanggungan. Kita tetap berdiri tegak, karena kita menjunjung tinggi empat pilar utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, Undang - Undang Dasar Negara 1945, dan Pancasila. Sang Merah Putih tetap berkibar karena kita selalu mampu beradabtasi di tengah arus perubahan sejarah.
 
Dengan hati yang bersih dan jiwa yang terang, kita semua berdiri tegak sebagai Warga Negara Republik Indonesia. Sebagai bangsa ke-empat terbesar di dunia. Sebagai negara Demokrasi ke-Tiga terbesar di dunia. Sebagai negara dan  ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Dan sebagai negara yang mampu bertahan mengahadapi krisis keuangan global. Bangsa yang mampu menatap masa depan dengan penuh semangat dan optimisme.
Kesimpulan sebagai paragdigma pengelolaan lembaga negara, clean and good government dapat terwujud secara maksimal jika di topang oleh 2 unsur yang saling terkait; negara  dan masyarakat yang di dalamnya terdapat sektor swasta.
Negara dengan  birokrasi pemerintahannya di tuntut untuk mengubah pola pelayanan publik dari perspektif birokrasi elitis menjadi birokrasi populis, yang berorientasi melayani dan berpihak kepada kepentingan masyarakat, pada saat yang sama sebagai komponen di luar birokrasi. Sektor swasta harus pula terlibat dan di libatkan oleh negara untuk berperan serta dalam 
proses pengelolaan sumber daya dan perumusan kebijakan. Wawasan Kebangsaan di perlukan menjadi identitas isi pembangunan yang sedang di laksanakan dengan wawasan kebangsaan ini.

Ciri utama ke indonesiaan menjadi garis tebal kebijakan dan arah orientasi pembangunan ke depan demi tercapainya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Sesuai cita-cita Pancasila dan UUD 1945. Pengelolaan pemerintahan pada masa depan tidak dapat lagi berpikir secara sempit. Sebagai pemangku jabatan harus memiliki Wawasan Kebangsaan yang luas, baik pada tatanan keputusan maupun aplikasinya.                                                                                                                                                                                                                                                                                        
Para wakil rakyat dalam melaksanakan fungsi regulasi anggaran dan pengawasan harus memiliki kemampuan berpikir dalam konteks wawasan kebangsaan. Dengan landasan pemikiran yang sama tentang Wawasan Kebangsaan ( seluruh komponen bangsa ) di harapkan pemerintahan kedepan mampu mencapai visinya dengan baik.
 Artikel ini saya dapatkan dalam pelatihan Wawasan Kebangsaan KEMENDAGRI di Bogor Hotel Salak tgl 2-3 Oktober 2011. Dan dengan ini saya ingin ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang membantu dan membangun, menggali potensi diri dan memberi ilmu pengetahuan inti dari Bangsa Indonesia dan tujuan akhir dari Wawasan Kebangsaan ini mengarahkan kepada Visi Misi Indonesia 2025 menjadikan Indonesia yang Mandiri , Maju, Adil dan Makmur.


































Dengan kesempatan ini juga saya berterima kasih atas pelatihan di Menpora dalam meningkatan Mutu Pengelolaan Kualitas Organisasi Kepemudaan Tingkat Nasional tgl 25-28 May 2011 Hotel Batavia .

                     ~ Terima kasih kepada semuanya ~

Minggu, 16 Oktober 2011

Teori Pemikiran Pembangunan Ekonomi


Ekonomi Pembangunan
Dalam hal pemikiran tentang pembangunan ekonomi telah terjadi suatu perkembangan yang pantas kita perhatikan. Sejak Adam Smith menulis bukunya yang terkenal : An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776) para ahli ekonomi tidak banyak mempersoalkan masalah pembangunan ekonomi. Kemajuan atau pertumbuhan ekonomi dianggap sudah semestinya terjadi. Masalah pembangunan ekonomi baru aktual lagi sesudah Perang Dunia II, ketika banyak negara bekas jajahan mencapai kemerdekaannya dan bertekad untuk segera mengejar keterbelakangannya dan mengatasi masalah kemiskinan, ketergantungan, dan ketertinggalannya.
Sayang dalam ilmu ekonomi  yang berlaku pada waktu itu belum banyak terdapat petunjuk atau teori tentang bagaimana caranya membangun suatu negara yang belum Rostov (The Stages of Economic Growth, 1959). Menurut teori ini, dalam proses menjadi negara maju setiap masyarakat harus melalui lima tahap perkembangan, yaitu : dari masyarakat "statis tradisional"  melalui tahap "prasyarat" baru bisa "lepas landas" (take off)  untuk selanjutnya berkembang atas kekuatan sendiri  sampai akhirnya mencapai tahap "masyarakat adil makmur".

Prasyarat-prasyarat yang perlu diusahakan atau dilengkapi sebelurn suatu negara dapat "lepas landas", antara lain:
* Perubahan ekonomi :
kenaikan produktivitas di sektor pertanian dan perkembangan di sektor pertambangan, dengan modernisasi dan penerapan teknologi maju.
- kenaikan daya beli masyarakat sehingga mampu membeli hasil-hasil industri ( lugs pasar ) .
- perluasan prasarana produksi dan sosial di luar sektor industri, seperti perhubungan, perbankan, pendidikan, dan kesehatan..
* Perubahan sikap mental masyarakat :
Sikap yang dibutuhkan untuk pembangunan, antara lain :
herorientasi pada masa depan, kemampuan untuk bekerja sama secara disiplin dan bertanggung jawab, bersikap rasional , efisiensi , menghargai waktu dan kekayaan immaterial.
* Peningkatan kemampuan warga masyarakat untuk menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi.
* Kepemimpinan nasional yang berorientasi pada pembangunan.
* Munculnya usahawan-usahawan sejati, bukan yang karbitan.
* Keseimbangan Neraca Pembayaran perlu dijaga untuk memperkecil ketergantungan dari modal luar negeri.
Meskipun penahapan Rostow ini banyak dikritik oleh para ahli ekonomi dan sejarah, namun sebagai pola pembangunan ekonomi nasional mengandung beberapa pengertian yang penting, antara lain bahwa pembangunan harus diartikan sebagai suatu usaha terencana di berbagai sektor secara simultan dan terpadu untuk mempersiapkan tahap "lepas landas", dengan menciptakan pranata dan lembaga sosial sebagai prasyarat yang mendorong perubahan sosial dan budaya. 

Perubahan Struktural
 Teori yang lebih langsung menanggapi masalah pembangunan ekonomi negara-negara berkembang berpangkal dari pengertian perubahan struktural. Teori perubahan struktural memusatkan perhatiannya pada mekanisme atau cara bagaimana negara "terbelakang" dapat mentransformasikan struktur perekonomiannya dari pertanian tradisional untuk mencukupi kebutuhan sendiri menjadi perekonomian yang lebih modern. Tokoh teori ini adalah W.Arthur Lewis (model dua sektor) yang dikembangkan lebih lanjut oleh John Fei dan Gustav Ranis.

Model W. Arthur Lewis
Dalam model Lewis perekonomian yang terbelakang terdiri dari dua sektor, yaitu sektor tradisional di pedesaan dan sektor industri modern perkotaan yang lebih produktif dan dapat sedikit demi sedikit menampung kelebihan tenaga kerja dari sektor pertanian.
Perhatian utama model ini adalah pada terjadinya proses pengalihan tenaga kerja dari desa ke kota serta pertumbuhan produksi dan kesempatan kerja di sektor modern. Perkembangan sektor modem ditentukan oleh tingkat investasi di hidang industri, sedangkan tingkat upah di perkotaan cukup lebih tinggi untuk menarik tenaga kerja dan desa ke kota tetapi tidak naik dengan terlalu cepat. Yang disyaratkan agar proses ini berjalan dengan baik ialah bahwa keuntungan yang diperoleh di sektor modern ditanam kembali dalam sektor modern (dan tidak dilarikan ke bank di luar negeri), dan di gunakan untuk perluasan usaha (bukan untuk membeli barang modal yang lebih canggih yang justru menghemat tenaga kerja). Juga di andaikan bahwa tenaga kerja yang tidak terampil yang mengalir dari desa ke kota semuanya bisa ditampung di sektor modern. Jelaslah kiranya bahwa syarat-syarat dan anggapan-anggapan ini kenyataannya sulit terpenuhi.

Perubahan Struktural dan Pola Pertumbuhan
Sementara itu, par ahli ekonometri berhasil mengembangkan metode-metode penelitian empiris dengan indikator-indikator yang secara kuantitati dapat menelusuri proses perubahan struktural yang telah terjadi di berbagai negara berkembang. Atas dasar penelitian yang luas dalam sejumlah besar negara berkembang dalam kurun waktu 1950 - 1973. Chenery dan Syrquin (1975) merumuskan sejumlah ciri-ciri yang bersama-sama menunjukkan pola dasar proses perkembangan ekonomi (Patterns of Development), meskipun ada perbedaan-perbedaan antara negara yang satu dengan yang lain karena perbedaan situasi, sumber daya, kebijakan pemerintah, dan sebagainya. Pola perubahan yang terjadi bila pendapatan per kapita suatu negara berkembang mulai naik, antara lain:
* Transformasi struktur produksi: terjadi pergeseran dari produksi harang pertanian ke produksi barang
industri : peranan industri meningkat dan peranan pertanian menurun.
* Tingkat tabungan dan akumulasi modal, baik modal fisik maupun modal manusia (pendidikan) semakin meningkat.
* Terjadi perubahan dalam komposisi permintaan dalam negeri : pengeluaran rnasyarakat untuk pangan
relatif menurun. pengeluaran untuk konsumsi bukan pangan naik, pengeluaran untuk imestasi dan untuk sektor pemerintah meningkat. Biasanya baik impor maupun ekspor naik dan komposisi ekspor berubah dari bahan-hahan mentah menjadi lebih banyak barang industri.
* Penggunaan faktor produksi terjadi pergeseran tenaga kerja dart sektor pertanian ke sektor industri
dan jasa, sedangkan produktivitas di sektor pertanian juga meningkat.
* Perubahan sosial : terjadinya urbanisasi, tingkat kelahiran dan tingkat kematian menurun, sekaligus distribusi pendapatan makin timpang (perbedaan kaya-miskin semakin menyolok).

Dalam model ini selain peranan di atas ditunjuk pula adanya setumpuk faktor lain yang (harus) ikut berubah agar perekonomian dapat berkembang dari sistem Teori Perkembangan Ekonomi
Karena persoalan-persoalan depresi ekonomi 1930-an telah teratasi, maka muncul fenomena ekonomi yang lain di Amerika Serikat. Ada pertanda bahwa tingkat pertumbuhan penduduk menurun, tabungan lebih besar dari investasi, muncullah hipotesis ekonomi dalam keadaan stagnasi. urangan produksi :
1. Robert M. Solow
Solow yang bertolak dari pemikiran ekonomi Neoklasik menyusun pula teori pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan teori produksi yang mengatasi kelemahan-kelemanah model Harrod-Domar. Di sini pun terdapat tiga variabel utama, tetapi unsur ketidakstabilan itu telah dihilangkan. Fungsi produksi dinyatakan dalam modal perkapita; pertambahan modal per kapita sama dengan jumlah tabungan per kapita dikurangi dengan jumlah pertumbuhan investasi per kapita.
Output terbagi dua, yakni untuk konsumsi dan untuk investasi. Dalam model ini ada tiga fungsi utama, yakni fungsi produksi, fungsi tabungan, dan fungsi investasi. Dengan demikian, tingkat keseimbangan antara ketiga fungsi itu stabil yang sedang berkembang, kemungkinan terjadi perangkap-pertumbuhan, karena tingkat akumulasi modal yang kecil, bahkan tingkat pertumbuhannya dapat lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk.

2. Teori Pertumbuhan Baru
Robert Lucas dari Universitas Chicago mengemukakan fenomena internasional yang tidak sesuai dengan teori pertumbuhan neoklasik, misalnya adanya perbedaan antara negara dan juga migrasi penduduk antar negara. Jika memang teknologi di seluruh dunia tidak berbeda, skil manusia yang terwujud dalam human capital seharusnya tidak berpindah dari negara sedang berkembang , dimana human capital telah tersedia dalam jumlah banyak, seperti yang banyak terjadi sekarang ini. Para ekonomi pertumbuhan yang baru, di sisi yang lain menekankan pentingnya perekonomian eksternal sebagai sumber akumulasi kapital.

3. Friedrich List
Pelopor Historismus : Eksponen Nasionalisme Ekonomi Bahwa Tahap Perkembangan Ekonomi yaitu dengan "cara produksi" :
1. Tahap Primitip
2. Tahap Beternak
3. Tahap Pertanian
4. Industri Pengolahan (Manufacturing)
5. Pertanian, Industri Pengolahan & Perdagangan

4. Karl Bucher
Sintesa Pendapat List dan Bruno Perkembangan Ekonomi Ada 3 tahap :
1. Produksi untuk kebutuhan Sendiri (subsistence)
2. Perekonomian Kota dimana pertukaran sudah meluas
3. Perekonomian Nasional dimana peran pedagang menjadi semakin penting ekonomi tradisional menjadi sistem modern. Chenery juga menunjuk pada kendala-kendala dari dalam negeri seperti keterbatasan sumber daya, jumlah dan pertambahan penduduk, rintangan kelembagaan, kebijakan dan cara kerja pemerintah. Juga kendala yang berasal dari dunia internasional seperti kesulitan (atau kemudahan) mendapatkan modal dari luar negeri, peralihan teknologi (canggih tapi padat modal padahal yang dibutuhkan teknologi madya yang padat karya), dan sebagainya.
 ol

Kamis, 06 Oktober 2011

3 Prasa










rumangsa handarbeni, melu hangrukebi, mulat sariro hangrosowani

Ketika di benua Eropa rame dibicarkan tentang prinsip-prinsip dasar dalam ilmu kepemimpinan, seperti trilogi  ilmu kepimpinan  (sense of belonging , sense of participate voluntrarily defend, sense of introspection), filosopi ilmu kepemimpinan itu sudah ada di Jawa.
Menurut orang-orang Eropa meniru filosofi Jawa yang sudah ada, yakni Tri Brata pada zaman Kerajaan  Mangkunegara I. Orang Jawa sudah mengenal ajaran itu beratus ratus tahun lamanya sebelum orang-orang Eropa menyebarkan trilogi, 3 dasar ilmu kepemimpinan.

Filosofi Tri Brata sebagai prinsip dasar orang Jawa, kata Sujarmin,  harus  rumongso melu handarbeni, wajib melu Hangrukebi, mulat sariro hangroso wani. Rumangsa melu handarbeni, artinya merasa ikut memiliki. Ajaran ini memberikan petunjuk bahwa dihubungkan dengan tugas negara, lembaga, dan lain-lain.

Maka seyogianya kita merasa itu merupakan milik kita dalam arti positif, yaitu suatu semangat untuk sayang kepada yang kita miliki. Dengan demikian, dalam melaksanakan tugas, kita akan lebih bersungguh-sungguh karena sadar bahwa yang kita lakukan untuk kepentingan kita sendiri dan lingkungan. Ajaran ini kalau dalam bahas Inggri dikenal dengan istilah sense of belonging,  


Wajib melu hangrukebi, artinya wajib ikut membela. Mengingat bahwa yang kita hadapi adalah milik kita, maka sebagai konsekunesinya kita wajib membela dan memeliharanya dengan secara suka rela tanpa diperintah atau sense of participate voluntrarily defend,

Mulat sariro hangroso wani, artinya mawas diri, untuk kemudian berani bersikap. Seseoarang yang bertindak seyogyanya melihat ke dalam dirinya dengan jujur, apakah yang akan di lakukan selaras antara pikiran . perkataan dan perbuatannya, berarti sense of introspection,
Tentang kebenaran orang Jawa ahli bisnis, bahwa pada zaman kerajaan Mangkunegara IV berkuasa, Mangkunegara adalah prototipe pemimpin Jawa yang memahami kearifan lokal dalam alam pikiran dan mengejawantahkannya dalam tindakan.

Sebagai orang Jawa, ketajaman visinya diimbangi dengan kepedulian terhadap rakyat. Ia barangkali sosok yang layak merepresentasikan etika altruistik kelas priyayi.  Etika itu mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang dalam hal kekuasaan, kepandaian, dan kekayaan tidak boleh dinikmati sendiri, melainkan juga dibagikan pada kerabat dekat dan lingkungan sekitar.

Dengan begitu, orang Jawa memang terkenal ahli stragei bisnis yang arif. Sujarmin mencontohkan bahwa dalam Serat Wedhatama, Mangkunegara IV banyak melukiskan konsep berusaha yang ideal dalam pandangan Jawa. Satu di antaranya, ia menekankan perlunya Asta Gina, yakni ajaran yang berisi delapan prinsip mendasar bagi pelaku dagang (bisnis) agar tak semata mengejar laba. Hakikat berusaha, dalam pandangan Mangkunegara IV, adalah meningkatkan etos dan sekaligus etika kerja.

Pertama, panggautan gelaring pambudi. Artinya, tiap usaha yang dijalankan harus digeluti secara maksimal. Kedua, rigen, yakni cerdas memilih jalan keluar bagi suatu masalah. Ketiga, gemi, yakni sikap hidup hemat dan mampu menabung keuntungan. Keempat, nastiti berarti kecermatan dan ketelitian mutlak dibutuhkan dalam bekerja untuk memperoleh hasil yang dikehendaki.
Kelima, weruh ing petungan. Artinya, seorang pebisnis harus punya kalkulasi untung-rugi yang matang. Keenam, taberi tatanya, jangan pernah malu bertanya pada para ahli atau pakar. Ketujuh, nyegah kayun pepinginan, jika ingin sukses lahir batin, seseorang harus menjauhi sikap hura-hura dan menahan diri dari segala hawa nafsu. Terakhir, kedelapan adalah nemen ing seja, yaitu ketetapan hati dan kebulatan tekad dalam berusaha.

Selain ajaran Asta Gina yang begitu monumental yang telah diakarkan oleh Mangkunegaran IV, dikenal juga banyak ajaran kearifan, di antaranya soal etos dagang orang jawa yang membawa kemakmuran serta kesejahteraan pada masa kepemimpinan Mangkunegara IV. Etos dagang yang nilai utamanya bukan pada banyaknya harta yang diperoleh, akan tetapi prosesnya yang harus benar menurut tradisi jawa dan agama. Etos lain adalah semangat menjaga kebersamaan dan sikap kekeluargaan.

Mari Kita bersama sama memaknai ajaran dan budaya kita yang sudah tertanam beratus ratus tahun yang lalu. Jangan sampai budaya kita malah ditiru di negeri orang,malah generasi kita nggak tahu sama sekali. Ini kan sangat meprihatinkan. Padahal, masih banyak ajaran filosofi yang diajarkan Mangkunegara yang bisa kita ambil untuk kejayaan negeri Indonesia.


oL