Laman

Selasa, 15 November 2011

Wawasan kebangsaan Mewujudkan Visi Indonesia 2025

Pendidikan Wawasan Kebangsaan di perlukan untuk memantabkan rasa dan sikap Nasionalisme yang tinggi, rasa senasib sepenanggungan, Sebangsa Setanah Air, satu tekad bersama yang lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan orang perorangan, Kelompok , Golongan, Suku Bangsa atau daerah di segala bidang untuk mencapai tujuan nasional. hal ini, bukanlah berati menghilangkan kepentingan orang perorang, Kelompok, Suku bangsa, atau Daerah, melainkan tetap menghormati, mengakui, dan memenuhinya, selama tidak bertentangan dengan kepentingan nasional atau kepentingan masyarakat banyak.

Memantabkan Wawasan Kebangsaan, juga bertujuan untuk menjaga kepentingan nasional kita, untuk mejadi negara maju, terhormat, dan bermartabat di mata dunia dengan cara :
1. Memelihara eksentensi negara bangsa ( Nation State ) ; bagaimana kita dapat menjaga keutuhan NKRI dan mengamankan dari berbagai gangguan seperti konflik
, Separatis, dan Disentigrasi.
2. Memelihara integrasi nasional , yakni keutuhan Ideologis ( PANCASILA dan UUD 1945 ), Integrasi Sosial dan Integrasi Teritorial ( keutuhan wilayah ) dan
3. Melaksanakan pembangunan kembali kehidupan nasional yang mulai dari badai krisis Ekonomi, Politik, serta terjadinya stagnasi pembangunan nasional di banyak sektor.

Beberapa upaya yang dapat di lakukan dalam memantabkan Wawasan Kebangsaan , antara lain:
1.Meningkatkan kesadaran segenap komponen bangsa dari sabang sampai Merauke dari Miangas sampai pulau rote untuk menerima, mengormati, dan segala bentuk keragaman bangsa sebagai karunia tuhan yg maha kuasa.
2.Membangun Sikap, Moral, dan Etika segenap komonen bangsa sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 agar dapat meredam kepentingan kelompok dan golongan sendiri, dan lebih mengutamakan kepentingan Bangsa dan Negara.
3. Meningkatkan sosialisasi Wawasan Kebangsaan guna membangun kehidupan nasional yang harmonis.
4. Mengoptimalkan pembelajaran Wawasan Kebangsaan yang sejalan dengan proses reformasi dan tidak Indoktrinasi.
5.Membangun nilai-nilai luhur budaya atas Wawasan Kebangsaan untuk membangun semangat Otonomi Daerah sebagai bagian dari proses pembangunan untuk semua ( Development for All )
6. Meningkatkan rasa hormat kepada Simbol-Simbol Negara ( Bendera, Lambang Negara, Presiden, dll ),
kepada para Pahlawan  dan Perjuangan Bangsa  ( Heroisme ).
7. Meningkatkan keteladanan  dari para Pimpinan Nasional, agar tertanan rasa hormat  dan kebanggaan kepada Bapak Bangsa ( The Founding Father ) dan para penyelenggara negara.
dengan cara itu, sesungguhnya Wawasan Kebangsaan secara jelas dapat memberikan jaminan atas tercapainya kepentingan nasional baik kedalam maupun keluar. hal ini berati bahwa wawasan kebangsaan memberikan gambaran  dan arah yang jelas bagi kelangsungan hidup bangsa sekaligus perkembangan kehidupan bangsa ada negara di masa depan.

Atas nama Reformasi dan Demokatisasi, seringkali sebagian masyarakat tidak lagi memaknai Pancasila, UUD 1945, Wawasan Kebangsaan , dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan  berbangsa dan bernegara secara utuh. Keinginan untuk tidak tergabung dalam wilayah NKRI dari sebagian kelompok masyarakat, seolah mendapat angin di era reformasi ini. Untuk itu, ke depan, perlu terus di bangun dan di kembangkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara harmonis dan seimbang, dimana demokrasi dan kebebasan makin hidup, di sertai kepatuhan kepada Pranata Hukum ( Rule Of Low ), Toleransi, Serta Etika dan Aturan main yang di sepakati bersama. terkait dengan kepatuhan terhadap Pranata Hukum, pasal 2 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004 mengamanatkan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber Hukum Negara. Maka di dalam peyusunan segala peraturan perUndang-Undangan beserta Implementasinya di dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara harus berdasarkan Pancasila.

Wawasan Kebangsaan sebagai landasan visional, merupakan cara pandang bangsa indonesia terhadap diri dan lingkungannya yang sarwa nusantara sebagai  satu kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan dengan beberapa prinsip dasar, yaitu :
1. Pancasila, sebagai falsafah negara dan merupakan konsep untuk menjadikan negara sebagai sarana perjuangan mewujudkan cita-cita bangsa.
2. Persatuan dan kesatuan, sebagai prinsip untuk mengakumulasikan kekuatan nasional dalam mencapai tujuan bersama. persatuan bangsa merupakan gabungan suku-suku bangsa yang sudah bersatu sebagai sebuah bangsa, bangsa indonesia secara keseluruhan.
4. Kebangsaan sebagai prinsip untuk mewujudkan keinginan untuk hidup bersama dalam mencapai tujuan bersama. kebangsaan merupakan mekanisme kehidupan kelompokyang terdiri atas unsur-unsur yang beragam, dengan ciri-ciri persaudaraan, kesetaraan, kesetiakawanan, kebersamaan, dan kesediaan berkorban bagi kepentingan bersama.
5. Kesadaran akan pentingnya bersatu, dengan menghimpun dan memadukan segenap sumber daya yang dimiliki bangsa indonesia untuk mencapai tujuan bersama.
6. Persatuan dan kesatuan bangsa, agar dapat mempertahankan  jati diri dan ikatan batin bangsa indonesia sebagai bangsa besar disegani.
7.kesatuan wilayah nasional, yang dapat menjamin keutuhan ruang hidup dan sumber kehidupan bagi bangsa indonesia.
8. kesatuan bangsa indonesia dengan tanah airnya yang dapat menjaamin kelangsungan hidup dan pertumbuhan indonesia
9.kesatuan dalam kemajemukan  bangsa indonesia agar dapat bersatu walaupun berbeda - beda, untuk menjamin harkat dan martabat kemanusian.
10. satu kesatuan kekuasaan berdasarkan kedaulatan rakyat yang dapat menjamin kesejahteraan , kedaulatan dan kemerdekaannya.

Pendidikan Wawasan Kebangsaan di Era Reformasi untuk mewujudkan Visi Indonesia 2025
Undang - Undang Republik Indonesia nomor 17 Tahun 2007 tentang rencana pembangunan jangka panjang Nasional tahun 2005-2025 adalah " Indonesia yang Mandiri , Maju, Adil , dan Makmur".

Mandiri : Bangsa Mandiri adalah Bangsa yang mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang telah maju dengan mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri.
Maju : suatu bangsa dalam bentuk apapun, Bangsa di katakan maju apabila sumber daya manusianya memiliki kepribadian Bangsa, Berakhlak mulia, dan berkualitas Pendidikan yang tinggi.
Adil : Sedangkan Bangsa Adil berati tidak ada Diskriminasi dalam bentuk apapun, baik antar Individu, Gender, maupun wilayah.
Makmur : Kemudian Bangsa yang makmur adalah bangsa yang sudah terpenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, sehingga dapat memberikan makna arti penting bagi Bangsa - Bangsa lain di dunia.

Negara Kesatuan Republik  Indonesia lahir dari kesepakatan anak-anak bangsa dan kesedian berkorban dari para pendahulu kita. NKRI yang besar dan majemuk, mustahil berdiri tegak tanpa kesepakatan dan saling menghormati. Republik Indonesia luasa dan terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote mustahil bertahan, jiak daerah - daerah, tidak memiliki peran penting dalam berbagai momentum bersejarah.

Bangsa kita semakin rukun dan bersatu, karena kita memiliki jati diri bangsa yang khas.Kita juga mempunyai semangat perjuangan yang tinggi. Kita tidak pernah mengenal kata menyerah, apakah itu
 melawan penjajahan, melawan ketidakadilan, melawan kemiskinan, serta menghadapi berbagai bencana alam dan tantangan - tantangan krisis.

Kita dapat berdiri tegak, karena kita mampu bersatu sebagai sebuah bangsa, sebagai saudara senasib dan sepenanggungan. Kita tetap berdiri tegak, karena kita menjunjung tinggi empat pilar utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, Undang - Undang Dasar Negara 1945, dan Pancasila. Sang Merah Putih tetap berkibar karena kita selalu mampu beradabtasi di tengah arus perubahan sejarah.
 
Dengan hati yang bersih dan jiwa yang terang, kita semua berdiri tegak sebagai Warga Negara Republik Indonesia. Sebagai bangsa ke-empat terbesar di dunia. Sebagai negara Demokrasi ke-Tiga terbesar di dunia. Sebagai negara dan  ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Dan sebagai negara yang mampu bertahan mengahadapi krisis keuangan global. Bangsa yang mampu menatap masa depan dengan penuh semangat dan optimisme.
Kesimpulan sebagai paragdigma pengelolaan lembaga negara, clean and good government dapat terwujud secara maksimal jika di topang oleh 2 unsur yang saling terkait; negara  dan masyarakat yang di dalamnya terdapat sektor swasta.
Negara dengan  birokrasi pemerintahannya di tuntut untuk mengubah pola pelayanan publik dari perspektif birokrasi elitis menjadi birokrasi populis, yang berorientasi melayani dan berpihak kepada kepentingan masyarakat, pada saat yang sama sebagai komponen di luar birokrasi. Sektor swasta harus pula terlibat dan di libatkan oleh negara untuk berperan serta dalam 
proses pengelolaan sumber daya dan perumusan kebijakan. Wawasan Kebangsaan di perlukan menjadi identitas isi pembangunan yang sedang di laksanakan dengan wawasan kebangsaan ini.

Ciri utama ke indonesiaan menjadi garis tebal kebijakan dan arah orientasi pembangunan ke depan demi tercapainya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Sesuai cita-cita Pancasila dan UUD 1945. Pengelolaan pemerintahan pada masa depan tidak dapat lagi berpikir secara sempit. Sebagai pemangku jabatan harus memiliki Wawasan Kebangsaan yang luas, baik pada tatanan keputusan maupun aplikasinya.                                                                                                                                                                                                                                                                                        
Para wakil rakyat dalam melaksanakan fungsi regulasi anggaran dan pengawasan harus memiliki kemampuan berpikir dalam konteks wawasan kebangsaan. Dengan landasan pemikiran yang sama tentang Wawasan Kebangsaan ( seluruh komponen bangsa ) di harapkan pemerintahan kedepan mampu mencapai visinya dengan baik.
 Artikel ini saya dapatkan dalam pelatihan Wawasan Kebangsaan KEMENDAGRI di Bogor Hotel Salak tgl 2-3 Oktober 2011. Dan dengan ini saya ingin ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang membantu dan membangun, menggali potensi diri dan memberi ilmu pengetahuan inti dari Bangsa Indonesia dan tujuan akhir dari Wawasan Kebangsaan ini mengarahkan kepada Visi Misi Indonesia 2025 menjadikan Indonesia yang Mandiri , Maju, Adil dan Makmur.


































Dengan kesempatan ini juga saya berterima kasih atas pelatihan di Menpora dalam meningkatan Mutu Pengelolaan Kualitas Organisasi Kepemudaan Tingkat Nasional tgl 25-28 May 2011 Hotel Batavia .

                     ~ Terima kasih kepada semuanya ~

Minggu, 16 Oktober 2011

Teori Pemikiran Pembangunan Ekonomi


Ekonomi Pembangunan
Dalam hal pemikiran tentang pembangunan ekonomi telah terjadi suatu perkembangan yang pantas kita perhatikan. Sejak Adam Smith menulis bukunya yang terkenal : An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776) para ahli ekonomi tidak banyak mempersoalkan masalah pembangunan ekonomi. Kemajuan atau pertumbuhan ekonomi dianggap sudah semestinya terjadi. Masalah pembangunan ekonomi baru aktual lagi sesudah Perang Dunia II, ketika banyak negara bekas jajahan mencapai kemerdekaannya dan bertekad untuk segera mengejar keterbelakangannya dan mengatasi masalah kemiskinan, ketergantungan, dan ketertinggalannya.
Sayang dalam ilmu ekonomi  yang berlaku pada waktu itu belum banyak terdapat petunjuk atau teori tentang bagaimana caranya membangun suatu negara yang belum Rostov (The Stages of Economic Growth, 1959). Menurut teori ini, dalam proses menjadi negara maju setiap masyarakat harus melalui lima tahap perkembangan, yaitu : dari masyarakat "statis tradisional"  melalui tahap "prasyarat" baru bisa "lepas landas" (take off)  untuk selanjutnya berkembang atas kekuatan sendiri  sampai akhirnya mencapai tahap "masyarakat adil makmur".

Prasyarat-prasyarat yang perlu diusahakan atau dilengkapi sebelurn suatu negara dapat "lepas landas", antara lain:
* Perubahan ekonomi :
kenaikan produktivitas di sektor pertanian dan perkembangan di sektor pertambangan, dengan modernisasi dan penerapan teknologi maju.
- kenaikan daya beli masyarakat sehingga mampu membeli hasil-hasil industri ( lugs pasar ) .
- perluasan prasarana produksi dan sosial di luar sektor industri, seperti perhubungan, perbankan, pendidikan, dan kesehatan..
* Perubahan sikap mental masyarakat :
Sikap yang dibutuhkan untuk pembangunan, antara lain :
herorientasi pada masa depan, kemampuan untuk bekerja sama secara disiplin dan bertanggung jawab, bersikap rasional , efisiensi , menghargai waktu dan kekayaan immaterial.
* Peningkatan kemampuan warga masyarakat untuk menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi.
* Kepemimpinan nasional yang berorientasi pada pembangunan.
* Munculnya usahawan-usahawan sejati, bukan yang karbitan.
* Keseimbangan Neraca Pembayaran perlu dijaga untuk memperkecil ketergantungan dari modal luar negeri.
Meskipun penahapan Rostow ini banyak dikritik oleh para ahli ekonomi dan sejarah, namun sebagai pola pembangunan ekonomi nasional mengandung beberapa pengertian yang penting, antara lain bahwa pembangunan harus diartikan sebagai suatu usaha terencana di berbagai sektor secara simultan dan terpadu untuk mempersiapkan tahap "lepas landas", dengan menciptakan pranata dan lembaga sosial sebagai prasyarat yang mendorong perubahan sosial dan budaya. 

Perubahan Struktural
 Teori yang lebih langsung menanggapi masalah pembangunan ekonomi negara-negara berkembang berpangkal dari pengertian perubahan struktural. Teori perubahan struktural memusatkan perhatiannya pada mekanisme atau cara bagaimana negara "terbelakang" dapat mentransformasikan struktur perekonomiannya dari pertanian tradisional untuk mencukupi kebutuhan sendiri menjadi perekonomian yang lebih modern. Tokoh teori ini adalah W.Arthur Lewis (model dua sektor) yang dikembangkan lebih lanjut oleh John Fei dan Gustav Ranis.

Model W. Arthur Lewis
Dalam model Lewis perekonomian yang terbelakang terdiri dari dua sektor, yaitu sektor tradisional di pedesaan dan sektor industri modern perkotaan yang lebih produktif dan dapat sedikit demi sedikit menampung kelebihan tenaga kerja dari sektor pertanian.
Perhatian utama model ini adalah pada terjadinya proses pengalihan tenaga kerja dari desa ke kota serta pertumbuhan produksi dan kesempatan kerja di sektor modern. Perkembangan sektor modem ditentukan oleh tingkat investasi di hidang industri, sedangkan tingkat upah di perkotaan cukup lebih tinggi untuk menarik tenaga kerja dan desa ke kota tetapi tidak naik dengan terlalu cepat. Yang disyaratkan agar proses ini berjalan dengan baik ialah bahwa keuntungan yang diperoleh di sektor modern ditanam kembali dalam sektor modern (dan tidak dilarikan ke bank di luar negeri), dan di gunakan untuk perluasan usaha (bukan untuk membeli barang modal yang lebih canggih yang justru menghemat tenaga kerja). Juga di andaikan bahwa tenaga kerja yang tidak terampil yang mengalir dari desa ke kota semuanya bisa ditampung di sektor modern. Jelaslah kiranya bahwa syarat-syarat dan anggapan-anggapan ini kenyataannya sulit terpenuhi.

Perubahan Struktural dan Pola Pertumbuhan
Sementara itu, par ahli ekonometri berhasil mengembangkan metode-metode penelitian empiris dengan indikator-indikator yang secara kuantitati dapat menelusuri proses perubahan struktural yang telah terjadi di berbagai negara berkembang. Atas dasar penelitian yang luas dalam sejumlah besar negara berkembang dalam kurun waktu 1950 - 1973. Chenery dan Syrquin (1975) merumuskan sejumlah ciri-ciri yang bersama-sama menunjukkan pola dasar proses perkembangan ekonomi (Patterns of Development), meskipun ada perbedaan-perbedaan antara negara yang satu dengan yang lain karena perbedaan situasi, sumber daya, kebijakan pemerintah, dan sebagainya. Pola perubahan yang terjadi bila pendapatan per kapita suatu negara berkembang mulai naik, antara lain:
* Transformasi struktur produksi: terjadi pergeseran dari produksi harang pertanian ke produksi barang
industri : peranan industri meningkat dan peranan pertanian menurun.
* Tingkat tabungan dan akumulasi modal, baik modal fisik maupun modal manusia (pendidikan) semakin meningkat.
* Terjadi perubahan dalam komposisi permintaan dalam negeri : pengeluaran rnasyarakat untuk pangan
relatif menurun. pengeluaran untuk konsumsi bukan pangan naik, pengeluaran untuk imestasi dan untuk sektor pemerintah meningkat. Biasanya baik impor maupun ekspor naik dan komposisi ekspor berubah dari bahan-hahan mentah menjadi lebih banyak barang industri.
* Penggunaan faktor produksi terjadi pergeseran tenaga kerja dart sektor pertanian ke sektor industri
dan jasa, sedangkan produktivitas di sektor pertanian juga meningkat.
* Perubahan sosial : terjadinya urbanisasi, tingkat kelahiran dan tingkat kematian menurun, sekaligus distribusi pendapatan makin timpang (perbedaan kaya-miskin semakin menyolok).

Dalam model ini selain peranan di atas ditunjuk pula adanya setumpuk faktor lain yang (harus) ikut berubah agar perekonomian dapat berkembang dari sistem Teori Perkembangan Ekonomi
Karena persoalan-persoalan depresi ekonomi 1930-an telah teratasi, maka muncul fenomena ekonomi yang lain di Amerika Serikat. Ada pertanda bahwa tingkat pertumbuhan penduduk menurun, tabungan lebih besar dari investasi, muncullah hipotesis ekonomi dalam keadaan stagnasi. urangan produksi :
1. Robert M. Solow
Solow yang bertolak dari pemikiran ekonomi Neoklasik menyusun pula teori pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan teori produksi yang mengatasi kelemahan-kelemanah model Harrod-Domar. Di sini pun terdapat tiga variabel utama, tetapi unsur ketidakstabilan itu telah dihilangkan. Fungsi produksi dinyatakan dalam modal perkapita; pertambahan modal per kapita sama dengan jumlah tabungan per kapita dikurangi dengan jumlah pertumbuhan investasi per kapita.
Output terbagi dua, yakni untuk konsumsi dan untuk investasi. Dalam model ini ada tiga fungsi utama, yakni fungsi produksi, fungsi tabungan, dan fungsi investasi. Dengan demikian, tingkat keseimbangan antara ketiga fungsi itu stabil yang sedang berkembang, kemungkinan terjadi perangkap-pertumbuhan, karena tingkat akumulasi modal yang kecil, bahkan tingkat pertumbuhannya dapat lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk.

2. Teori Pertumbuhan Baru
Robert Lucas dari Universitas Chicago mengemukakan fenomena internasional yang tidak sesuai dengan teori pertumbuhan neoklasik, misalnya adanya perbedaan antara negara dan juga migrasi penduduk antar negara. Jika memang teknologi di seluruh dunia tidak berbeda, skil manusia yang terwujud dalam human capital seharusnya tidak berpindah dari negara sedang berkembang , dimana human capital telah tersedia dalam jumlah banyak, seperti yang banyak terjadi sekarang ini. Para ekonomi pertumbuhan yang baru, di sisi yang lain menekankan pentingnya perekonomian eksternal sebagai sumber akumulasi kapital.

3. Friedrich List
Pelopor Historismus : Eksponen Nasionalisme Ekonomi Bahwa Tahap Perkembangan Ekonomi yaitu dengan "cara produksi" :
1. Tahap Primitip
2. Tahap Beternak
3. Tahap Pertanian
4. Industri Pengolahan (Manufacturing)
5. Pertanian, Industri Pengolahan & Perdagangan

4. Karl Bucher
Sintesa Pendapat List dan Bruno Perkembangan Ekonomi Ada 3 tahap :
1. Produksi untuk kebutuhan Sendiri (subsistence)
2. Perekonomian Kota dimana pertukaran sudah meluas
3. Perekonomian Nasional dimana peran pedagang menjadi semakin penting ekonomi tradisional menjadi sistem modern. Chenery juga menunjuk pada kendala-kendala dari dalam negeri seperti keterbatasan sumber daya, jumlah dan pertambahan penduduk, rintangan kelembagaan, kebijakan dan cara kerja pemerintah. Juga kendala yang berasal dari dunia internasional seperti kesulitan (atau kemudahan) mendapatkan modal dari luar negeri, peralihan teknologi (canggih tapi padat modal padahal yang dibutuhkan teknologi madya yang padat karya), dan sebagainya.
 ol

Kamis, 06 Oktober 2011

3 Prasa










rumangsa handarbeni, melu hangrukebi, mulat sariro hangrosowani

Ketika di benua Eropa rame dibicarkan tentang prinsip-prinsip dasar dalam ilmu kepemimpinan, seperti trilogi  ilmu kepimpinan  (sense of belonging , sense of participate voluntrarily defend, sense of introspection), filosopi ilmu kepemimpinan itu sudah ada di Jawa.
Menurut orang-orang Eropa meniru filosofi Jawa yang sudah ada, yakni Tri Brata pada zaman Kerajaan  Mangkunegara I. Orang Jawa sudah mengenal ajaran itu beratus ratus tahun lamanya sebelum orang-orang Eropa menyebarkan trilogi, 3 dasar ilmu kepemimpinan.

Filosofi Tri Brata sebagai prinsip dasar orang Jawa, kata Sujarmin,  harus  rumongso melu handarbeni, wajib melu Hangrukebi, mulat sariro hangroso wani. Rumangsa melu handarbeni, artinya merasa ikut memiliki. Ajaran ini memberikan petunjuk bahwa dihubungkan dengan tugas negara, lembaga, dan lain-lain.

Maka seyogianya kita merasa itu merupakan milik kita dalam arti positif, yaitu suatu semangat untuk sayang kepada yang kita miliki. Dengan demikian, dalam melaksanakan tugas, kita akan lebih bersungguh-sungguh karena sadar bahwa yang kita lakukan untuk kepentingan kita sendiri dan lingkungan. Ajaran ini kalau dalam bahas Inggri dikenal dengan istilah sense of belonging,  


Wajib melu hangrukebi, artinya wajib ikut membela. Mengingat bahwa yang kita hadapi adalah milik kita, maka sebagai konsekunesinya kita wajib membela dan memeliharanya dengan secara suka rela tanpa diperintah atau sense of participate voluntrarily defend,

Mulat sariro hangroso wani, artinya mawas diri, untuk kemudian berani bersikap. Seseoarang yang bertindak seyogyanya melihat ke dalam dirinya dengan jujur, apakah yang akan di lakukan selaras antara pikiran . perkataan dan perbuatannya, berarti sense of introspection,
Tentang kebenaran orang Jawa ahli bisnis, bahwa pada zaman kerajaan Mangkunegara IV berkuasa, Mangkunegara adalah prototipe pemimpin Jawa yang memahami kearifan lokal dalam alam pikiran dan mengejawantahkannya dalam tindakan.

Sebagai orang Jawa, ketajaman visinya diimbangi dengan kepedulian terhadap rakyat. Ia barangkali sosok yang layak merepresentasikan etika altruistik kelas priyayi.  Etika itu mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang dalam hal kekuasaan, kepandaian, dan kekayaan tidak boleh dinikmati sendiri, melainkan juga dibagikan pada kerabat dekat dan lingkungan sekitar.

Dengan begitu, orang Jawa memang terkenal ahli stragei bisnis yang arif. Sujarmin mencontohkan bahwa dalam Serat Wedhatama, Mangkunegara IV banyak melukiskan konsep berusaha yang ideal dalam pandangan Jawa. Satu di antaranya, ia menekankan perlunya Asta Gina, yakni ajaran yang berisi delapan prinsip mendasar bagi pelaku dagang (bisnis) agar tak semata mengejar laba. Hakikat berusaha, dalam pandangan Mangkunegara IV, adalah meningkatkan etos dan sekaligus etika kerja.

Pertama, panggautan gelaring pambudi. Artinya, tiap usaha yang dijalankan harus digeluti secara maksimal. Kedua, rigen, yakni cerdas memilih jalan keluar bagi suatu masalah. Ketiga, gemi, yakni sikap hidup hemat dan mampu menabung keuntungan. Keempat, nastiti berarti kecermatan dan ketelitian mutlak dibutuhkan dalam bekerja untuk memperoleh hasil yang dikehendaki.
Kelima, weruh ing petungan. Artinya, seorang pebisnis harus punya kalkulasi untung-rugi yang matang. Keenam, taberi tatanya, jangan pernah malu bertanya pada para ahli atau pakar. Ketujuh, nyegah kayun pepinginan, jika ingin sukses lahir batin, seseorang harus menjauhi sikap hura-hura dan menahan diri dari segala hawa nafsu. Terakhir, kedelapan adalah nemen ing seja, yaitu ketetapan hati dan kebulatan tekad dalam berusaha.

Selain ajaran Asta Gina yang begitu monumental yang telah diakarkan oleh Mangkunegaran IV, dikenal juga banyak ajaran kearifan, di antaranya soal etos dagang orang jawa yang membawa kemakmuran serta kesejahteraan pada masa kepemimpinan Mangkunegara IV. Etos dagang yang nilai utamanya bukan pada banyaknya harta yang diperoleh, akan tetapi prosesnya yang harus benar menurut tradisi jawa dan agama. Etos lain adalah semangat menjaga kebersamaan dan sikap kekeluargaan.

Mari Kita bersama sama memaknai ajaran dan budaya kita yang sudah tertanam beratus ratus tahun yang lalu. Jangan sampai budaya kita malah ditiru di negeri orang,malah generasi kita nggak tahu sama sekali. Ini kan sangat meprihatinkan. Padahal, masih banyak ajaran filosofi yang diajarkan Mangkunegara yang bisa kita ambil untuk kejayaan negeri Indonesia.


oL

Selasa, 20 September 2011

Buramnya Potret Hukum dan Politik Di Indonesia

Law is a command of the Lawgiver (hukum adalah perintah dari penguasa), dalam arti perintah dari mereka yang memiliki kekuasaan tertinggi atau yang memegang kedaulatan. Perdebatan mengenai hubungan hukum dan politik memiliki akar sejarah panjang dalam ilmu hukum. Bagi kalangan penganut aliran positivisme hukum seperti John Austin, hukum adalah tidak lain dari produk politik atau kekuasaan. Pada sisi lain, pandangan berbeda datang dari kalangan aliran sejarah dalam ilmu hukum, yang melihat hukum tidak dari dogmatika hukum dan undang-undang semata, akan tetapi dari kenyataan-kenyataan sosial yang ada dalam masyarakat dan berpandangan bahwa hukum itu tergantung pada penerimaan umum dalam masyarakat dan setiap kelompok menciptakan hukum yang hidup.
Memperhatikan perkembangan sistem hukum Indonesia, kita akan melihat adanya ciri-ciri yang spesifik dan menarik untuk dikaji. Sebelum pengaruh hukum dari penjajahan Belanda di Indonesia berlaku hukum adat dan hukum Islam yang berbeda-beda dari berbagai masyarakat adat di Indonesia dari setiap kerajaan dan etnik yang berbeda. Setelah masuk penjajah Belanda membawa hukumnya sendiri yang sebagian besarnya merupakan konkordansi dengan hukum yang berlaku di Belanda yaitu hukum tertulis dan perundang-undangan yang bercorak positivis. Walaupun demikian Belanda menganut politik hukum adat (adatrechtpolitiek), yaitu membiarkan hukum adat itu berlaku bagi golongan masyarakat Indonesia asli dan hukum Eropa berlaku bagi kalangan golongan Eropa yang bertempat tinggal di Indonesia (Hindia Belanda). Dengan demikian pada masa Hindia Belanda berlaku pluralisme hukum. Perkembangan hukum di Indonesia menunjukkan kuatnya pengaruh hukum kolonial dan meninggalkan hukum adat.
Karena itu, dalam melihat persoalan hukum di Indonesia harus dipandang dari kenyataan sejarah dan perkembangan hukum Indonesia itu. Pada saat sekarang ini terdapat perbedaan cara pandang terhadap hukum diantara kelompok masyarakat Indonesia. Berbagai ketidakpuasan atas penegakkan hukum dan penanganan berbagai persoalan hukum bersumber dari cara pandang yang tidak sama tentang apa yang dimaksud hukum dan apa yang menjadi sumber hukum. Tulisan ini akan mengkaji permasalahan ini dari sudut pandang teori positivis yang berkembang dalam ilmu hukum dengan harapan akan mendapatkan gambaran tentang akar persoalan pembangunan sistem hukum Indonesia pada masa mendatang.

II. Pandangan Aliran Positivis Tentang Hukum

Aliran positivisme hukum berasal dari ajaran sosiologis yang dikembangkan oleh filosof Perancis; August Comte (1798-1857) yang berpendapat bahwa terdapat kepastian adanya hukum-hukum perkembangan mengatur roh manusia dan segala gejala hidup bersama dan itulah secara mutlak. August Comte hanya mengakui hukum yang dibuat oleh negara. (Achmad Ali, 2002, : 265). Untuk memahami positivisme hukum tidak dapat diabaikan metodelogi positivis dalam sains yang mengahruskan dilakukannya validasi dengan metode yang terbuka atas setiap kalin atau proposisi yang diajukan. Karena itu bukti empirik adalah syarat universal untuk diterimanya kebenaran dan tidak berdasarkan otoritas tradisi atau suatu kitab suci. Menurut Fletcher (Fletcher 1996 : 33) Positivisme hukum mempunyai pandangan yang sama tentang diterimanya validasi. Seperti halnya positivisme sains yang tidak dapat menerima pemikiran dari suatu proposisi yang tidak dapat diverifikasi atau yang tidak dapat difalsifikasi., tetapi karena hukum itu ada karena termuat dalam perundang-undangan apakah dipercaya atau tidak. Hukum harus dicantumkan dalam undang-undang oleh lembaga legislatif dengan memberlakukan, memperbaiki dan merubahnya.
Positivisme hukum berpandangan bahwa hukum itu harus dapat dilihat dalam ketentuan undang-undang, karena hanya dengan itulah ketentuan hukum itu dapat diverifikasi. Adapan yang di luar undang-undang tidak dapat dimasukkan sebagai hukum karena hal itu berada di luar hukum. Hukum harus dipisahkan dengan moral, walaupun kalangan positivis mengakui bahwa focus mengenai norma hukum sangat berkaitan dengan disiplin moral, teologi, sosiolgi dan politik yang mempengaruhi perkembangan sistem hukum. Moral hanya dapat diterima dalam sistem hukum apabila diakui dan disahkan oleh otoritas yang berkuasa dengan memberlakukannya sebagai hukum.
Lebih jauh, pandangan dan pendapat dari mazhab positivisme ini dapat ditelusuri dari pendapat dan pandangan dari para penganut terpenting dari mazhab ini antara lain John Austin, seorang ahli hukum yang berkebangsaan Inggeris yang mewakili pandangan positivis dari kelompok penganut sistem hukum Common Law dan Hans Kelsen, seorang ahli hukum yang berkebangsaan Jerman yang mewakili pandangan positivis dari kelompok penganut sistem hukum Eropa Kontinental.
Menurut John Austin (seperti dikutip Achmad Ali, Ibid, hlm. 267), hukum adalah perintah kaum yang berdaulat. Ilmu hukum berkaitan dengan hukum positif atau dengan ketentuan-ketentuan lain yang secara tegas disebut demikian. Pendapat Austin sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai kedaulatan negara yang memiliki dua sisi yaitu sisi eksternal dalam bentuk hukum internasional dan sisi internal dalam bentuk hukum positif. Kedaulatan negara menuntut ketaatan dari penduduk warga negara. Lebih lanjut menurut Austin, ketaatan ini berbeda dengan ketaatan seseorang karena ancaman senjata. Ketaatan warga negara terhadap kedaulatan negara didasarkan pada legitimasi. Menurut pandangan Austin (Lili Rasyidi, 2001, : 58), hukum sebagai suatu sistem yang logis, tetap dan bersifat tertutup (closed logical system). Hukum dipisahkan secara tegas dari keadilan dan tidak didasarkan pada nilai-nilai yang baik atau buruk. Ada empat unsur hukum yaitu adanya perintah, sanksi, kewajiban dan kedaulatan. Ketentuan yang tidak memenuhi ke empat unsur ini tidak dapat dikatan sebagai positive law.
Selanjutnya Lili Rasyidi (Ibid, : 59-60) menyimpulkan pokok-pokok ajaran Analytical Jurisprudence dari Austin, yaitu :
  1. Ajarannya tidak berkaitan dengan soal atau penilain baik dan buruk, sebab peniliain terbeut berada di luar hukum;
  2. Walau diakui adanya hukum moral yang berpengaruh terhadap masyarakat, namun secara yuridis tidak penting bagi hukum.
  3. Pandangannya bertolak belakang dengan baik penganut hukum alam maupun mazhab sejarah;
  4. Hakekat dari hukum adalah perintah. Semua hukum positif adalah perintah dari yang berdaulat/penguasa.
  5. Kedaulatan adalah hal di luar hukum, yaitu berada pada dunia politik atau sosiologi karenanya tidak perlu dipersoalkan sebab dianggap sebagai sesuatu yang telah ada dalam kenyataan;
  6. Ajaran Austin kurang/tidak memberikan tempat bagi hukum yang hidup dalam masyarakat.
Dari kalangan penganut sistem hukum Eropa Kontinental, Hans Kelsen yang dikenal dengan jaran hukum murninya selalu digolongkan sebagai penganut aliran positivisme ini. Ada dua teori yang dikemukakan oleh Hans Kelsen yang perlu diketengahkan ( Ibid. : 60). Pertama, ajarannya tentang hukum yang bersifat murni dan kedua, berasal dari muridnya Adolf Merkl yaitu stufenbau des recht yang mengutamakan tentang adanya hierarkis daripada perundang-undangan. Inti ajaran hukum murni Hans Kelsen (Ibid. : 61) adalah bahwa hukum itu harus dipisahkan dari anasir-anasir yang tidak yuridis seperti etis, sosiologis, politis dan sebagainya. Dengan demikian Kelsen tidak memberikan tempat bagi betrlakunya hukum alam. Hukum merupakan sollen yuridis semata-mata yang terlepas dari das sein / kenyataan sosial.
Sedangkan ajaran stufentheorie berpendapat bahwa suatu sistem hukum adalah suatu hierarkis dari hukum dimana suatu ketentuan hukum tertentu bersumber pada ketentuan hukum lainnya yang lebih tinggi. Sebagai ketentuan yang paling tanggi adalah Grundnorm atau norma dasar yang bersifat hipotetis. Ketentuan yang lebih rendah adalah lebih konkrit daripada ketentuan yang lebih tinggi. Ajaran murni tentang hukum adalah suatu teori tentang hukum yang senyatanya dan tidak mempersoalkan hukum yang senyatanya itu, yaitu apakah hukum yang senyatanya itu adil atau tidak adil.
Selanjutnya Prof. H.L.A. Hart (seperti dikutip oleh Lili Rasyidi, Ibid. : 57), menguraikan tentang ciri-ciri positivisme pada ilmu hukum dewasa ini sebagai berikut:
  • - Pengertian bahwa hukum adalah perintah dari manusia (command of human being);
  • - Pengertian bahwa tidak ada hubungan mutlak/penting antara hukum (law) dan moral atau hukum sebagaimana yang berlaku/ada dan hukum yang sebenarnya;
  • - Pengertian bahwa analisis konsepsi hukum adalah :
  • 1. mempunyai arti penting,
  • 2. harus dibedakan dari penyelidikan :
a. historis mengenai sebab-musabab dan sumber-sumber hukum,
b. sosiologis mengenai hubungan hukum dengan gejala sosial lainnya, dan
c. penyelidikan hukum secara kritis atau penilain, baik yang berdasarkan moral, tujuan sosial, fungsi hukum dan lain-lainnya.
- Pengertian bahwa sitem hukum adalah sistem yang logis, tetap dan bersifat tertutup dalam mana keputusan-keputusan hukum yang benar/tepat biasanya dapat diperoleh dengan alat-alat logika dari peraturan-peraturan hukum yang telah ditentukan sebelumnya tanpa memperhatikan tujuan-tujuan sosial, politik dan ukuran-ukuran moral;
- Pengertian bahwa pertimbangan-pertimbangan moral tidak dapat dibuat atau dipertahankan sebagai pernyataan kenyataan yang harus dibuktikan dengan argumentasi-argumentasi rasional, pembuktian atau percobaan.
Dengan demikian kita dapat pula mengatakan, karena negara adalah ekspresi atau merupakan forum kekuatan-kekuatan politik yang ada didalam masyarakat, maka hukum adalah hasil sebagian pembentukan keputusan yang diambil dengan cara yang tidak langsung oleh penguasa. Penguasa mempunyai tugas untuk mengatur dengan cara-cara umum untuk mengatasi problema-problema kemasyarakatan yang serba luas dan rumit, pengaturan ini merupakan obyek proses pengambilan keputusan politik, yang dituangkan kedalam aturan-aturan, yang secara formal diundangkan. Jadi dengan demikian hukum adalah hasil resmi pembentukan keputusan politik (Ibid, : 93).

III. Pengaruh Politik Dalam Pembentukan Hukum di Indonesia
A. Peranan Struktur dan Infrastruktur Politik
Menurut Daniel S. Lev, yang paling menentukan dalam proses hukum adalah konsepsi dan struktur kekuasaan politik. Yaitu bahwa hukum sedikit banyak selalu merupakan alat politik, dan bahwa tempat hukum dalam negara, tergangtung pada keseimbangan politik, defenisi kekuasaan, evolusi idiologi politik, ekonomi, sosial, dan seterusnya (Daniel S. Lev, 1990 : xii).
Walaupun kemudian proses hukum yang dimaksud tersebut di atas tidak diidentikan dengan maksud pembentukan hukum, namun dalam prateknya seringkali proses dan dinamika pembentukan hukum mengalami hal yang sama, yakni konsepsi dan struktur kekuasaan politiklah yang berlaku di tengah masyarakat yang sangat menentukan terbentuknya suatu produk hukum. Maka untuk memahami hubungan antara politik dan hukum di negara mana pun, perlu dipelajari latar belakang kebudayaan, ekonomi, kekuatan politik di dalam masyarakat, keadaan lembaga negara, dan struktur sosialnya, selain institusi hukumnya sendiri.
Pengertian hukum yang memadai seharusnya tidak hanya memandang hukum itu sebagai suatu perangkat kaidah dan azas-azas yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, tetapi harus pula mencakup lembaga (institutions) dan proses (process) yang diperlukan untuk mewujudkan hukum dalam kenyataan (Lihat Mieke Komar at. al, 2002 : 91).
Dari kenyataan ini disadari, adanya suatu ruang yang absah bagi masuknya suatu proses politik melalui wadah institusi politik untuk terbentuknya suatu produk hukum. Sehubungan dengan itu, ada dua kata kunci yang akan diteliti lebih jauh tentang pengaruh kekuasaan dalam hukum yakni mencakup kata “process” dan kata “institutions,” dalam mewujudkan suatu peraturan perundang-undangan sebagai produk politik. Pengaruh itu akan semakin nampak pada produk peraturan perundang-undang oleh suatu institusi politik yang sangat dpengarhi oleh kekuata-kekuatan politik yang besar dalam institusi politik. Sehubungan dengan masalah ini, Miriam Budiarjo berpendapat bahwa kekuasaan politik diartikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi kebijaksanaan umum (pemerintah) baik terbentuknya maupun akibat-akibatnya, sesuai dengan pemegang kekuasaan (M.Kusnadi, SH., 2000 : 118). Dalam proses pembentukan peraturan hukum oleh institusi politik peranan kekuatan politik yang duduk dalam institusi politik itu adalah sangat menentukan. Institusi politik secara resmi diberikan otoritas untuk membentuk hukum hanyalah sebuah institusi yang vacum tanpa diisi oleh mereka diberikan kewenangan untuk itu. karena itu institusi politik hanya alat belaka dari kelompok pemegang kekuasaan politik. Kekuatan- kekuatan politik dapat dilihat dari dua sisi yakni sisi kekuasaan yang dimiliki oleh kekuatan politik formal (institusi politik) dalam hal ini yang tercermin dalam struktur kekuasaan lembaga negara, seperti Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat dan lembaga-lembaga negara lainnya dan sisi kekuatan politik dari infrastruktur politik adalah seperti: partai politik, tokoh-tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, Lembaga Swadaya Masyarakat, organisasi profesi dan lain-lain. Dengan demikian dapatlah disimpilkan bahwa pembentukan produk hukum adalah lahir dari pengaruh kekuatan politik melalui proses politik dalam institusi negara yang diberikan otoritas untuk itu.
Seperti telah diuraikan dalam bagian terdahulu bahwa teori-teori hukum yang berpengaruh kuat terhadap konsep-konsep dan implementasi kehidupan hukum di Indonesia adalah teori hukum positivisme. Pengaruh teori ini dapat dilihat dari dominannya konsep kodifikasi hukum dalam berbagai jenis hukum yang berlaku di Indonesia bahkan telah merambat ke sistem hukum internasional dan tradisional (Lili Rasjidi, SH., 2003 : 181). Demikian pula dalam praktek hukum pun di tengah masyarakat, pengaruh aliran poisitvis adalah sangat dominan. Apa yang disebut hukum selalu dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan, di luar itu, dianggap bukan hukum dan tidak dapat dipergunakan sebagai dasar hukum. Nilai-nilai dan norma di luar undang-undang hanya dapat diakui apabila dimungkinkan oleh undang-undang dan hanya untuk mengisi kekosongan peraturan perundang-undang yang tidak atau belum mengatur masalah tersebut.
Pengaruh kekuatan-kekuatan politik dalam membentuk hukum dibatasi ruang geraknya dengan berlakunya sistem konstitusional berdasarkan checks and balances, seperti yang dianut Undang-Undang dasar 1945 (UUD 1945) setelah perubahan. Jika diteliti lebih dalam materi perubahan UUD 1945 mengenai penyelenggaraan kekuasaan negara adalah mempertegas kekuasaan dan wewenang masing-masing lembaga-lembaga negara, mempertegas batas-batas kekuasaan setiap lembaga negara dan menempatkannya berdasarkan fungsi-fungsi penyelenggaraan negara bagi setiap lembaga negara. Sistem yang demikian disebut sistem “checks and balances”, yaitu pembatasan kekuasaan setiap lembaga negara oleh undang-undang dasar, tidak ada yang tertinggi dan tidak ada yang rendah, semuanya sama di atur berdasarkan fungsi-fungsi masing-masing.
Dengan sistem yang demikian, memberikan kesempatan kepada setiap warga negara yang merasa dirugikan hak konstitusionalnya oleh produk politik dari instutusi politik pembentuk hukum untuk mengajukan gugatan terhadap institusi negara tersebut. Dalam hal pelanggaran tersebut dilakukan melalui pembentukan undang-undang maka dapat diajukan keberatan kepada Mahkmah Konstitusi dan dalam hal segala produk hukum dari institusi politik lainnya dibawah undang-undang diajukan kepada Mahkamah Agung.

B. Pengaruh Kelompok Kepentingan dalam Pembentukan Hukum
Di luar kekuatan-kekuatan politik yang duduk dalam institusi-instusi politik, terdapat kekuatan-kekuatan lainnya yang memberikan kontribusi dan mempengaruhi produk hukum yang dilahirkan oleh institusi-institusi politik. Kekuatan tersebut berbagai kelompok kepentingan yang dijamin dan diakui keberadaan dan perannya menurut ketentuan hukum sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, seperti kalangan pengusaha, tokoh ilmuan, kelompok organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, tokoh agama, lembaga swadaya masyarakat dan lain-lain. Bahkan UU. R.I. No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Per-Undang-Undangan, dalam Bab. X menegaskan adanya partisipasi masyarakat yaitu yang diatur dalam Pasal 53 : “Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan Rancangan Undang Undang dan Rancangan Peraturan Daerah.”
Kenyataan di atas menunjukan bahwa pengarh masyarakat dalam mempengaruhi pembentukan hukum, mendapat tempat dan apresiasi yang begitu luas. Apalagi sejak tuntutan masyarakat dalam mendesakkan reformasi disegala bidang berhasil dimenangkan, dengan ditandai jatuhnya orde baru di bawah kepemimpinan Suharto yang otoriter, maka era reformasi telah membawa perubahan besar di segala bidang ditandai dengan lahirnya sejumlah undang-undang yang memberi apresiasi yang begitu besar dan luas. Dalam kasus ini, mengingatkan kita kepada apa yang diutarakan oleh pakar filsafat publik Walter Lippmann, bahwa opini massa telah memperlihatkan diri sebagai seorang master pembuat keputusan yang berbahaya ketika apa yang dipertaruhkan adalah soal hidup mati (Walter Lippmann, 1999 : 21).
Kenyataan yang perlu disadari, bahwa intensnya pengaruh tuntutan masyarakat terhadap pembentukan hukum dan lahirnya keputusan-keputusan hukum dapat terjadi jika tuntutan rasa keadilan dan ketertiban masyarakat tidak terpenuhi atau terganggu Karena rasa ketidakadilan dan terganggunya ketertiban umum akan memicu efek opini yang bergulir seperti bola salju yang semakin besar dan membahayakan jika tidak mendapat salurannya melalui suatu kebijakan produk hukum atau keputusan yang memadai untuk memenuhi tuntutan masyarakat tersebut.
Satu catatan penting yang perlu dikemukakan disini untuk menjadi perhatian para lawmaker adalah apa yang menjadi keprihatinan Walter Lippmann, yaitu :”Kalu opini umum sampai mendomonasi pemerintah, maka disanalah terdapat suatu penyelewengan yang mematikan, penyelewengan ini menimbulkan kelemahan, yang hampir menyerupai kelumpuhan, dan bukan kemampuan untuk memerintah (Ibid, : 15). Karena itu perlu menjadi catatan bagi para pembentuk hukum adalah penting memperhatikan suara dari kelompok masyarakat yang mayoritas yang tidak punya akses untuk mempengaruhi opini publik, tidak punya akses untuk mempengaruhi kebijakan politik. Disnilah peranan para wakil rakyat yang terpilih melalui mekanisme demokrasi yang ada dalam struktur maupun infrastruktur politik untuk menjaga kepentingan mayoritas rakyat, dan memahami betul norma-norma, kaidah-kaidah, kepentingan dan kebutuhan rakyat agar nilai-nilai itu menjadi hukum positif.

C. Sistem Politik Indonesia
Untuk memahami lebih jauh tentang mekanisme pembentukan hukum di Indonesia, perlu dipahami sistem politik yang dianut. Sistem politik mencerminkan bagaimana kekuasaan negara dijalankan oleh lembaga-lembaga negara dan bagaimana meknaisme pengisian jabatan dalam lembaga-lembaga negara itu dilakukan. Inilah dua hal penting dalam mengenai sistem politik yang terkait dengan pembentukan hukum.
Beberapa prinsip penting dalam sistem politik Indonesia yang terkait dengan uraian ini adalah sistem yang berdasarkan prinsip negara hukum, prinsip konstitusional serta prinsip demokrasi. Ketiga prinsip ini saling terkait dan saling mendukung, kehilangan salah satu prinsip saja akan mengakibatkan pincangnya sistem politik ideal yang dianut. Prinsip negara hukum mengandung tiga unsur utama, yaitu pemisahan kekuasaan  - check and balances - prinsip due process of law, jaminan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan jaminan serta perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Prinsip konstitusional mengharuskan setiap lembaga-lembaga negara pelaksana kekuasaan negara bergerak hanya dalam koridor yang diatur konstitusi dan berdasarkan amanat yang diberikan konstitusi.
Dengan prinsip demokrasi partisipasi publik/rakyat berjalan dengan baik dalam segala bidang, baik pada proses pengisian jabatan-jabatan dalam struktur politik, maupun dalam proses penentuan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh berbagai struktur politik itu. Karena itu demokrasi juga membutuhkan transparansi (keterbukaan informasi), jaminan kebebasan dan hak-hak sipil, saling menghormati dan menghargai serta ketaatan atas aturan dan mekanisme yang disepakati bersama.
Dengan sistem politik yang demikianlah berbagai produk politik yang berupa kebijakan politik dan peraturan perundang-undangan dilahirkan. Dalam kerangka paradigmatik yang demikianlah produk politik sebagai sumber hukum sekaligus sebagai sumber kekuatan mengikatnya hukum diharapkan – sebagaimana yang dianut aliran positivis – mengakomodir segala kepentingan dari berbagai lapirsan masyarakat, nilai-nilai moral dan etik yang diterima umum oleh masyarakat. Sehingga apa yang dimaksud dengan hukum adalah apa yang ada dalam perundang-undangan yang telah disahkan oleh institusi negara yang memiliki otoritas untuk itu. Nilai-nilai moral dan etik dianggap telah termuat dalam perundang-undangan itu karena telah melalui proses partisipasi rakyat dan pemahaman atas suara rakyat. Dalam hal produk itu dianggap melanggar norma-norma dan nilai-nilai yang mendasar yang dihirmati oleh masyarakat dan merugikan hak-hak rakyat yang dijamin konstitusi, maka rakyat dapat menggugat negara (institusi) tersebut untuk mebatalkan peraturan yang telah dikeluarkannya dan dinyatakan tidak berlaku. Dengan demikian nilai moral dan etik, kepentingan-kentingan rakyat yang ada dalam kenyataan-kenyataan sosial tetap menjadi hukum yang dicita-citakan yang akan selalui mengontrol dan melahirkan hukum positif yang baru melalui proses perubahan, koreksi dan pembentukan perundangan-undangan yang baru.

KESIMPULAN

  1. Memahami hukum Indonesia harus dilihat dari akar falsafah pemikiran yang dominan dalam kenyataanya tentang pengertian apa yang dipahami sebagai hukum serta apa yang diyakini sebagai sumber kekuatan berlakunya hukum. Dari uraian pada bagian terdahulu, tidak diragukan lagi bahwa apa yang dipahami sebagai hukum dan sumber kekuatan berlakunya hukum sangat dipengaruhi oleh aliran positivisme dalam ilmu hukum yang memandang hukum
    itu terbatas pada apa yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan atau yang dimungkinkan berlakunya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, bahkan aliran ini akan terus mengokohkan dirinya dalam perkembagan sistem hukum Indonesia ke depan. Adapun nilai-nilai moral dan etika serta kepentingan rakyat dalam kenyataan-kenyataan sosial di masyarakat hanya sebagai pendorong untuk terbentuknya hukum yang baru melalui perubahan
    KAMIS, 08 SEPTEMBER 2011 19:31 WIB
    Potret Buram Korupsi di Indonesia Sekjen Transparency International Indonesia Teten Masduki (tengah) bersama Anggota Komisi III DPR Eva Sundari (kanan) dan Ketua Presidium GMNI Twedy Noviady berbicara dalam diskusi yang membahas hukum dalam persfektif Pancasila dan mengulas Korupsi potret buram hukum Indonesia, di Galeri Cafe, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (8/9).
    , koreksi serta pembentukan peraturan perundang-undangan yang baru.
  2. Kenyataan ini menunjukkan bahwa hukum adat dengan bentuknya yang pada umumnya tidak tertulis, yang sifatnya religio magis, komun, kontan dan konkrit (visual), sebagai hukum asli Indonesia semakin tergeser digantikan oleh paham positivis. Menurut Penulis, berbagai masalah kekecewaan pada penegakan hukum serta kekecewaan pada aturan hukum sebagian besarnya diakibatkan oleh situasi bergesernya pemahaman terhadap hukum tersebut serta proses pembentukan hukum dan putusan-putusan hukum yang tidak demokratis.

    ol

Selasa, 06 September 2011

Yuk Jalan Jalan

Kalau ada yang bertanya kepada saya, “Mengapa sih harus jalan-jalan di Indonesia?” maka jawaban saya adalah, “Mengapa tidak?” Ada banyak alasan mengapa kita harus jalan-jalan di Indonesia. Di bawah ini saya tuliskan beberapa.

Semoga artikel ini dapat membuat Anda sepakat dengan saya: berjalan-jalan di Indonesia adalah wajib hukumnya.

Segala ada

Apa jenis wisata yang Anda cari? Wisata laut, gunung, budaya, belanja, atau flora dan fauna? Semua ada di Indonesia. Laut kita sudah tidak perlu diragukan lagi. Dunia bawah laut Raja Ampat, Wakatobi, Komodo dan Bunaken sudah terkenal di seluruh dunia
.
 















Jenis pasir pantai apa yang Anda cari? Indonesia punya pasir putih bersih sehalus tepung juga merah muda berbutir-butir. Bagi pecinta gunung, Indonesia adalah negara dengan gunung berapi paling banyak di dunia. Ada banyak taman nasional bagi penggemar flora dan fauna.

Dengan beragam suku, etnis, agama dan kepercayaan, Indonesia punya keragaman budaya. Jakarta, kota dengan pusat perbelanjaan terbanyak, cocok buat yang hobi belanja. Gedung tua yang bersejarah, ada juga.



 










Ramah
  
Banyak orang mengatakan, orang Indonesia tidak lagi seramah dulu. Tetapi saya percaya bangsa Indonesia tetaplah salah satu bangsa dengan tingkat keramahan tertinggi di dunia. Bahkan di kota besar seperti Jakarta yang konon masyarakatnya individualis, orang Jakarta jauh lebih ramah dibandingkan negara lain. Kalau Anda tersesat di belantara kekusutan Jakarta, tidak perlu ragu bertanya. Pasti dibantu. Di negara lain? Belum tentu.

Mahal / murah memang relatif. Jika Anda tinggal di Medan, misalnya, berjalan-jalan ke daerah Indonesia timur tentu lebih mahal dari negara tetangga. Tapi jangan lupa, ada harga ada rupa. Sering kali yang Anda bayar sebanding dengan yang didapat.

Melihat Komodo, satu-satunya binatang purba yang tersisa, dan leyeh-leyeh di pantai berpasir merah muda jauh lebih asyik dan membanggakan ketimbang berfoto di depan menara kembar atau main di taman hiburan. Karya manusia tidak akan bisa mengalahkan karya agung ciptaan Tuhan, bukan?

Supaya murah, kunjungilah daerah yang dekat dengan tempat tinggal Anda, misalnya provinsi tetangga. Anda bisa juga memesan tiket promosi penerbangan murah dari  jauh-jauh hari.


Lebih mudah 
Yang dimaksud dengan mudah di sini bukanlah tentang menjangkau tujuan-tujuan wisata di Indonesia, melainkan soal bahasa dan budaya. Ke daerah mana pun Anda pergi di Indonesia, tentu Anda sudah dapat memperkirakan pantangan di daerah itu.

Makin terpencil suatu daerah, biasanya makin kuat adatnya. Pastinya Anda mampu mengira-ngira di mana Anda boleh memakai tank top, dan mana yang tidak. Karena kita masih sebangsa, bahasa tubuh maupun ekspresi lebih mudah dibaca sehingga kemungkinan salah paham dapat diperkecil.

CINTA  TANAH AIR 

Bagaimana dengan saat ini, masih adakah diantara kita yang mencintai tanah air dan bangsa melebihi cintanya pada diri sendiri? Atau pertanyaan ini pertanyaan yang cukup bodoh untuk diajukan? Siapa yang masih perlu mecintai tanah air dan bangsa Indonesia? Yang penting asal kita bisa hidup cukup sandang, pangan dan papan sudah cukup, kalau ada kelebihan sedikit untuk bisa jalan-jalan ke mall, makan enak di café, atau pergi karaokean kan sudah cukup, untuk apa mikirin cinta tanah air dan bangsa! Bahkan kalau mungkin bisa punya rumah yang megah, mobil mewah, dan menyekolahkan anak keluar negeri, setiap tahun bisa liburan kemana kita mau pergi kan sudah lebih dari cukup! Tapi masih ada juga dari bangsa kita yang bergulat dengan kemiskinan untuk makan saja susah dan tinggal di rumah yang lebih mirip kandang dari pada disebut rumah, dan jumlahnya juga tidak sedikit bisa mencapai 50 juta jiwa bangsa Indonesia, apakah masih ada perlunya mencintai tanah air dan bangsa?.

Apakah masih relevan kita mencintai tanah air dan bangsa pada zaman globalisasi ini? Bukankah tanah air dan bangsa ini sudah nggak jelas batas-batasnya dengan adanya era globalisasi? Ada internet yang menghubungakan setiap orang untuk bisa berhubungan satu sama lain setiap saat keseluruh dunia. Belum lagi adanya Hand Phone atau kalau diluar negeri lebih dikenal dengan nama Mobile Phone, yang juga kita bisa berhubungan dengan siapapun ke hampir seluruh pelosok dunia. Kalau secara fisik mau bertemu ada yang namanya penerbangan murah yang siap menerbangkan kita kemana saja dengan harga yang murah (bagi yang terjangkau). Kenapa kita mau membatasi hanya tanah air dan bangsa Indonesia saja.

Kita juga bisa bertanya pada diri kita sendiri kita lebih bangga menjadi bangsa Indonesia atau lebih bangga menjadi warga dunia atau mungkin lebih bangga jadi bangsa lain?

Salah satu alasan orang Indonesia jalan-jalan ke luar negeri adalah karna gaya hidup. Padahal, kurang bergengsi apa kalau Anda sudah menjelajahi seluruh Indonesia? Sangat ironis jika orang Indonesia lebih sering jalan-jalan di negara lain tetapi tidak tahu betapa indahnya negeri sendiri. Masak orang asing lebih paham kecantikan negara kita? 

Perbaikan kehidupan

Bila keadaan ekonomi Anda baik-baik saja dan merasa tidak peduli dengan kondisi ekonomi negara, sebaiknya Anda berpikir ulang. Kondisi ekonomi negara selalu mempengaruhi kondisi ekonomi penduduknya.

Dengan jalan-jalan di negeri sendiri, kita ikut memperbaiki kondisi ekonomi negara kita yang efeknya juga akan memperbaiki kehidupan kita. Mengapa bisa begitu?

Sebab, menghabiskan uang di negeri sendiri akan membuat uang tidak “kabur” ke luar negeri. Yah, ibaratnya uang dari kantong kanan pindah ke kantong kiri, nggak pindah ke kantong orang lain. Jika perekonomian bangsa membaik, kita juga yang untung, kan?

ol

Jumat, 02 September 2011

Era Womenomics

Kapasitas, Kapabilitas, Kuantitas, dan Kualitas wanita dalam menggerakan roda perekonomian sebagai subjek ataupun objek di pengaruhi oleh pikiran dan tindakannya yang makin hari makin matang menuju  era baru : era womenomics.

 Wanita, Media Sosial, dan Masa Depan

Kepercayaan adalah elemen penting, paling krusial dan paling esensial dalam era womenomics, karena dengan kepercayaanlah menjadi sumber dari adanya saling pengertian, saling mecintai, saling perduli, saling memberi, dan saling berkomitmen.

Zukerberg dengan Facebook saat ini momentumnya bertepatan dengan munculnya era baru dunia ketika Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) dan pemanfaatannya oleh manusia makin berkembang pesat. Zukerberg adalah representasi generasi baru yang sejak dini telah akrab dengan teknologi. generasi ini selalu membutuhkan teknologi dan konektivitas, kapan pun dan dimanapun. mereka ini adalah generasi yg kerap bereksperimen  dg teknologi baru dan rajin membentuk jejaring sosial dan profesional. " ini adalah generasi millenials " 

Lahirnya facebook sebagai penyeranta sisi emosional dengan teknologi, jelas menjadi elemen yang sangat berpengaruh kaitannya dengan perkembangan womenomics. Wanita yang pada dasarnya adalah makhluk yang berperasaan halus, peka, dan pintar dalam manajemen emosi, tentu akan mendapat keuntungan tersendiri dengan adanaya tren media sosial berbasis internet. Pada masa lalu, wanita kesulitan untuk menyatakan ungkapan emosional dalam hati. kini, dengan perkembangan perangkat teknologi beserta konten media sosial seperti facebook dan twiter yg menawarkan jasa " sharing " maka itu artinya wanita akan lebih mudah mengekspresikan keinginannya. entah itu sebagai sifat produsen, konsumen, ataupun dalam kaitannya dengan eksplorasi ide-ide bisnis brilian. mereka akan lebih cepat mengendus opportunity-opportunity bisnis baru.

Penguatan tren percepatan womenics saat ini karena di topang oleh mulai makin meratanya penyebaran  koneksi internet di indonesia serta penggunaan smartphone dan pemanfaatan media sosial yang membuat wanita wanita dapat berkumpul, berdiskusi, berorganisasi, menyuarakan pikiran, dan berkarya. Belum lagi faktor alamiah yaitu kemampuan wanita untuk multi tasking, di tambah dengan kualitas wanita yang selalu menggunakan otak kanan yang maksimal ( kreatif ), komunikator handal, dan dengan empati yang besar bagi sekitarya, membuat kiprah wanita di berbagai bidang makin lama makin cemerlang. " it's time for women to shine, ". Wanita yang siap menatap masa depan.




Wanita dan CSR 


 Dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas tercantum pasal yang mencantumkan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari kegiatan perusahaan. berdasarkan pasal itu, setiap perusahaan wajib menganggarkan dana setiap tahunnya untuk kegiatan Corporate Social Responsibility ( CSR ) . Bagi perseroan yang tidak melaksanakannya, wajib di kenakan sanksi. dalam hal ini tak terelakkan sebagian perusahaan melihat CSR sebagai biaya operasional perusahaan meningkat. Pandangan demikian seperti itu terkadang membuat perusahaan melakukan kegiatan CSR yang hanya bersifat " lipstick ", sebagai alat untuk pencitraan dan marketing serta mengabaikan unsur keberlanjutan ( sunstainable ). terlepas dari apapun motivasi perusahaan, yang jelas mereka manargetkan keberhasilan dalam setiap kegiatan CSR yan di lakukan. mereka tidak hanya ingin program ini berhasil, tapi mereka juga ingin program ini membawa benefit bagi perusahaan. benefit yang paling di harapkan daris setiap kegiatan CSR yang dilakukan adalah reputasi baik yang di terima perusahaan dari komunitas lokal, masyarakat luas, dan pemerintah.

Yang menarik, selanjutnya banyak perusahaan menempatkan perempuan untuk mengurusi kegitan CSR mereka. Apa yang menjadi bahan pertimbangan mereka ? Karena kegiatan ini berhubungan dengan masyarakat dan karena kegiatan CSR membutuhkan kedekatan, kesabaran, keperdulian yang lebih. Mereka percaya, perempuan lebih mampu melakukan tugas itu . Karena sosoknya dapat membuat wajah perusahaaan teerlihat ramah. yng pada akhirnya memberikan pencitraan serta reputasi perusahaan sebagai benefit yang di harapkan ( double benefit,reputasi pribadi dan nama baik peusahaan ).


Beberapa wanita penggiat kegiatan Corporate Social Responsibility ( CSR )
- Tati Bakrie , Bakrie Fondation 
- Tinah Bingei Tanoto , Co-Founder Tanoto Foundation
- Liliana Tanoesoedibjo, Ketua Pengurus Jalinan Kasih RCTI, Ketua Umum Yayasan  Pendidikan Bagi Bangsa
- Nenny Soemawinata , Direktur Putera Sampoerna Foundation
- Sinta Kaniawati , Direktur CSR PT Unilever tbk
  
Tugas Negara Di Pundak Wanita

Peran wanita di level atas pemerintahan makin luas. Mereka ada yang menjabat sdebagai direktur kementerian, deputi menteri, sekjen, dirjen, hingga menteri. Semakin besarnya jumlah wanita yang menjabat di berbagai posisi penting pada pemerintahan menjadi point penting pada era kemajuan wanita. tidak sedikit kini jabatan dan peran penting di pemerintahan di pegang oleh wanita. Artinya, pos-pos penting yang berperan signifikan untuk negara telah di percayakan untuk di handle oleh kaum wanita. Hal ini menandakan kepercayaan dan kemampuan yang ada pada kaum wanita tidak bisa di anggap remeh.

Tanggung jawab yang di pikul oleh kaum wanita selama menjabat jabatan penting kenegaraan terbukti juga mampu di laksanakan secara bertanggung jawab. dan kepuasan para stakeholders atas kinerja yang di hasilkannya memberi yang semakin luas atas peran wanita untuk turut berpartisipasi membangun negara.
Kontribusi yang di berikan mereka pun menyangkut pertaruhan atas nama negara. Artinya, kegagalan diri pemimpin wanita akan berdampak pada kegagalan negara. Sebaliknya, keberhasilan mereka akan menyokong keberhasilan negara.

 Salah satu contoh adalah tokoh wanita Mari Elka Pangestu yang kini menjabat sebagai menteri perdagangan. Tanggung jawab yang sangat berat menyangkut perdagangan nasional dan kerja sama eknomi ndonesia dengan negara negara lain berada di pundaknya. akan tetapi Mari berhasil membuktikan bahwa dalam kepemimpinan prestasi surplus perdagangan internasional bisa di raih, walaupun hal-hal yang menyangkut kebijakan perdagangan yang di keluarkannya tidak sedikit mengundang protes.


Salah satu lagi tokoh pemimpin wanita yang cukup banyak di kagumi di Indonesia adalah Sri Mulyani. walaupun akhirnya lengser sebagai menteri keuangan, prestasinya kini mencuat di level Internasional dengan menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. peran kunci mengelola keuangan negara pernah di lakoninya, yng tentu bukan merupakan peran yang mudah di pikul. kini sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, tanggung jawabnya juga tak ringan karena harus bertanggung jawab atas kemajuan ekonomi banyak negara, terutama negara - negara berkembang. Adanya andil mereka menunjukkan bahwa pada prinsipnya peluang dan kesempatan untuk menjadi pejabat negara bagi kaum wanita semakin luas. Tinggal bagaimana kaum perempuan menunjukan kemampuannya dalam mengemban tugas negara yang di amanatkan.

Karena perempuan ingin menentukkan jenis yang mereka butuhkan  dan membungkusnnya dengan kebijakan yang mendukung perempuan untuk mencapai cita-cita dan tujuannya. Undang Undang terhadap diskriminasi gender / perempuan akan membuat pembuat kebijakan dan menghilangkan adanya perbedaan-perbedaan
yang terjadi. yang akhirnya akan membuat suatu negara lebih sukses dan sejahtera.

oL





Selasa, 30 Agustus 2011

Perayaan Idul Fitri Secara Dunia



 


Umat Islam di Indonesia menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga, apalagi keluarga yang karena suatu alasan, misalnya pekerjaan atau pernikahan, harus berpisah. Mulai dua minggu sebelum Idul Fitri, umat Islam di Indonesia mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini, yang paling utama adalah Mudik  atau Pulang Kampung, sehingga pemerintah pun memfasilitasi dengan memperbaiki jalan-jalan yang dilalui. Hari Raya Idul Fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional, yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas Muslim. Biasanya, penetapan Idul Fitri ditentukan oleh pemerintah, namun beberapa ormas Islam menetapkannya berbeda. Idul Fitri di Indonesia disebut dengan Lebaran, dimana sebagian besar masyarakat pulang kampung (mudik) untuk merayakannya bersama keluarga. Selama perayaan, berbagai hidangan disajikan. Hidangan yang paling populer dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia adalah ketupat, yang memang sangat familiar di indonesia, malaysia, brunei, dan singapura. Bagi anak-anak, biasanya para orang tua memberikan uang raya kepada mereka. Selama perayaan, biasanya masyarakat berkunjung ke rumah-rumah tetangga ataupun saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan "halal bi-halal", memohon maaf dan keampunan kepada mereka. Beberapa pejabat negara juga mengadakan open house bagi masyarakat yang ingin bersilaturahmi.

Di malaysia, singapura, dan brunei, Idul Fitri dikenal juga dengan sebutan Hari Raya Puasa atau Hari Raya Aidil Fitri. Masyarakat di Malaysia dan Singapura turut merayakannya bersama masyarakat Muslim diseluruh dunia. Seperti di Indonesia, malam sebelum perayaan selalu diteriakkan takbir di masjid ataupun mushola, yang mengungkapkan kemenangan dan kebesaran Tuhan. Diperkampungan, biasanya banyak masyarakat yang menghidupkan pelita atau panjut, atau obor di Indonesia. Banyak bank, perkantoran swasta ataupun pemerintahan yang tutup selama perayaan Idul Fitri hingga akhir minggu perayaan. Masyarakat disini biasanya saling mengucapkan "Selamat Hari Raya" atau "Salam Aidil Fitri" dan "Maaf lahir dan batin" sebagai ungkapan permohonan maaf kepada sesama. Di Malaysia juga ada tradisi balik kampung, atau mudik di Indonesia. Disini juga ada tradisi pemberian uang oleh para orang tua kepada anak-anak, yang dikenal dengan sebutan duit raya.
Umat Muslim adalah minoritas di filipina, sehingga sebagian besar masyarakat tidak begitu familiar dengan perayaan ini. Namun, perayaan Idul Fitri sudah diatur sebagai hari libur nasional oleh pemerintah dalam Republic Act No. 9177 dan berlaku sejak 13 november 2002

Asia Selatan

Di Bangladesh, India, dan Pakistan, malam sebelum Idul Fitri disebut Chand Raat, atau malam bulan. Orang-orang mengunjungi berbagai bazar dan mal untuk berbelanja, dengan keluarga dan anak-anak mereka. Para perempuan, terutama yang muda, seringkali satu sama lain mengecat tangan mereka dengan bahan tradisional hennadan serta memakai rantai yang warna-warni.
Cara yang paling populer di Asia Selatan selama perayaan Idul Fitri adalah dengan mengucapkan Eid Mubarak kepada yang lain. Anak-anak didorong untuk menyambut para orang tua. Didalam penyambutan ini, mereka juga berharap untuk memperoleh uang, yang disebut Eidi, dari para orang tua.
Di pagi Idul Fitri, setelah mandi dan bersih, setiap Muslim didorong untuk menggunakan pakaian baru, bila mereka bisa mengusahakannya. Sebagai alternatif, mereka boleh menggunakan pakaian yang bersih, yang telah dicuci. Orang tua dan anak laki-laki pergi ke masjid atau lapangan terbuka, tradisi ini disebut Eidgah, salat Ied, berterimakasih kepada Allah karena diberi kesempatan beribadah di bulan Ramadan dengan penuh arti. Setiap Muslim diwajibkan untuk membayar Zakat Fitri atau Zakat Fitrah kepada fakir miskin, sehingga mereka dapat juga turut merayakan hari kemenangan ini.
Setelah salat, perkumpulan itu dibubarkan dansetiap Muslim saling bertamu dan menyambut satu sama lain termasuk anggota keluarga, anak-anak, orang tua, teman dan tetangga mereka.
Sebagian Muslim juga berziarah ke makam anggota keluarga mereka untuk berdoa bagi keselamatan almarhum. Biasanya, anak-anak mengunjungi sanak keluarga dan tetangga yang lebih tua untuk meminta maaf dan mengucapkan salam.
Setelah bertemu dengan teman dan sanak keluarganya, banyak orang yang pergi ke pesta-pesta, karnaval, dan perayaan khusus di taman-taman (dengan bertamasya, kembang api, mercon, dan lain-lain). Di banglades, india, dan pakistan, banyak dilakukan bazar, sebagai puncak Idul Fitri. Sebagian Muslim juga memanfaatkan perayaan ini untuk mendistribusikan zakat mal, zakat atas kekayaannya, kepada orang-orang miskin.
Dengan cara ini, umat Muslim di asia selatan merayakan Idul Fitri dalam suasana yang meriah, sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah, dan mengajak keluarga mereka, teman, dan para fakir miskin, sebagai rasa kebersamaan

Arab Saudi
Di Arab Saudi, tepatnya di Riyadh, umat Islam mendekorasi rumah saat Idul Fitri tiba. Sejumlah perayaan digelar seperti pagelaran teater, pembacaan puisi, parade, pertunjukan musik, dan sebagainya. Soal menu Lebaran, umat Islam di sana menyantap daging domba yang dicampur nasi dan sayuran tradisional. Hal ini juga terjadi di Sudan, Suriah, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Cina

Di Cina, tepatnya di Xinjiang, perayaan Lebaran justru tampak meriah. Kaum pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, sementara wanita memakai baju hangat dan kerudung setengah tutup. Seusai salat Idul Fitri, pesta makan dan bersilaturahim pun dilakukan.

Iran

Lebaran di Iran justru kurang semarak. Hal ini karena mayoritas umat Islam di sana adalah pengikut ajaran Syiah. Setelah salat Idul Fitri di masjid atau lapangan, mereka cukup melanjutkannya dengan acara silaturahmi bersama keluarga dan ditutup dengan acara pemberian makanan dari keluarga kaya kepada yang kurang mampu.

Eropa

Di Eropa, perayaan Idul Fitri tidak dilakukan dengan begitu semarak. Di Inggris misalnya, Idul Fitri tidak diperingati sebagai hari libur nasional. Kaum muslimin di Inggris harus mencari informasi tentang hari Idul Fitri. Biasanya, informasi ini didapat dari Islamic Centre terdekat atau dari milis Islam. Idul Fitri dirayakan secara sederhana di Inggris. Khotbah disampaikan oleh Imam masjid setempat, dilanjutkan dengan bersalam-salaman. Biasanya di satu area dimana terdapat banyak kaum Muslimin disana, kantor-kantor dan beberapa sekolah di area tersebut akan memberikan satu hari libur untuk kaum muslimin. Untuk menentukan hari Idul Fitri sendiri, para ulama dan para ahli agama Islam sering mengadakan rukyat hisab untuk menentukan hari raya Idul Fitri.

Turki

Di Turki, Idul Fitri dikenal dengan sebutan Bayram (dari bahasa Turki). Biasanya setiap orang akan saling mengucapkan "Bayramınız Kutlu Olsun", "Mutlu Bayramlar", atau "Bayramınız Mübarek Olsun". Pada Idul Fitri, masyarakat biasanya menggunakan pakaian terbaik mereka (dikenal sebagai Bayramlik) dan saling kunjung mengunjungi ketempat orang-orang yang mereka kasihi seperti keluarga, tetangga, dan teman-teman mereka serta menziarahi kuburan keluarganya yang telah tiada.
Pada masa itu, orang yang lebih muda akan mencium tangan kanan mereka yang lebih tua dan menempatkannya di dahi mereka selagi mengucapkan salam Bayram. Para anak-anak kecil juga biasa mendatangi rumah-rumah disekitar lingkungannya untuk mengucapkan salam, dimana mereka biasanya diberikan permen, cokelat permen tradisional seperti Baklava dan Lokum, atau sejumlah kecil uang.

Amerika

Amerika Utara

Umat Muslim di Amerika Utara pada umumnya merayakan Idul Fitri dengan cara yang tenang dan khidmat. Karena penetapan hari raya bergantung pada peninjauan bulan, seringkali banyak masyarakat tidak sadar bahwa hari berikutnya sudah Idul Fitri. Masyarakat menggunakan metode yang berbeda untuk menentukan penghujung Ramadhan dan permulaan Syawal. Orang Amerika Utara yang berada di wilayah timur bisa jadi merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda dibanding mereka yang di wilayah barat. Pada umumnya, penghujung Ramadan diumumkan via e-mail, website, atau melalui sambungan telepon.
Umumnya, keluarga Muslim di Barat akan bangun sangat pagi sekali untuk menyiapkan makanan kecil. Setiap orang didorong untuk berpakaian formal dan baru. Banyak keluarga-keluarga yang memakai pakaian tradisional dari negara mereka, karena kebanyakan Muslim disana ialah imigran. Selanjutnya mereka akan pergi ke majlis yang paling dekat untuk salat. Salat itu bisa diadakan di masjid Lokal, ruang pertemuan hotel, gelanggang, ataupun stadion lokal. Salat Idul Fitri sangat penting, dan umat Muslim didorong untuk salat Id memohon ampunan dan pahala. Setelah salat, ada kutbah dimana imam memberikan nasihat bagi jamaahnya dan biasanya didorong untuk mengakhiri setiap kebencian ataupun kesalahan lampau yang mungkin mereka punya. Setelah salat dan kutbah, para jamaah saling memeluk dan satu sama lain saling mengucapkan selamat Idul Fitri. Muslim di Amerika Utara juga merayakan Idul Fitri dengan cara saling memberi dan menerima hadiah kepada keluarga.
  Empire State Building di New York City, Amerika Serikat, memancarkan lampu-lampu berwarna hijau sebagai penghormatan terhadap hari raya Idul Fitri pada tanggal 12-14 Oktober 2007.

Dengan kesempatan ini saya ingin pada hari selasa tanggal 30 Agustus 2011 mengucapkan Selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1432 H .

o.L